Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat nggak cuma berdampak pada manusia, tetapi juga membuat satwa kehilangan tempat tinggal.
Yayasan IAR Indonesia (YIARI) menyelamatkan 25 orangutan dari kawasan yang terdampak karhutla. Tiga di antaranya merupakan induk yang ditemukan bersama bayinya dalam kondisi kritis.
Data tersebut disampaikan melalui mitra YIARI, Animals Australia, pada 20 September 2026. Para orangutan ditemukan setelah kebakaran membuat habitat mereka rusak dan memaksa satwa keluar dari hutan menuju permukiman hingga area perkebunan.
Kondisi mereka pun cukup memprihatinkan. Selain kehilangan habitat, orangutan yang dievakuasi mengalami dampak asap, dehidrasi hingga luka bakar akibat kebakaran yang melanda kawasan tempat mereka hidup.
Salah satunya adalah Mama Penja, orangutan betina berusia sekitar 20 tahun yang ditemukan bersama bayinya di area perkebunan sawit yang dikepung lahan terbakar.
Kedua kaki Mama Penja mengalami luka bakar setelah berjalan di atas tanah gambut yang masih membara. Ia juga mengalami malnutrisi, dehidrasi dan anemia, sementara bayinya kemudian diberi nama Penja.
Dokter hewan sekaligus salah satu pendiri YIARI, Karmele Llano Sanchez, ikut dalam proses penyelamatan Mama Penja. Saat tim tiba, orangutan tersebut bahkan tidak melakukan perlawanan karena kondisinya sudah sangat lemah.
Karmele yang berasal dari Bilbao, Spanyol, datang ke Indonesia pada 2003 sebagai relawan. Selama lebih dari dua dekade, ia telah menangani berbagai kasus orangutan di Kalimantan.
Setelah menjalani perawatan selama sekitar sepekan di pusat rehabilitasi, kondisi Mama Penja mulai menguat. Namun, luka bakar pada kedua kakinya masih mengalami infeksi sehingga membutuhkan perawatan intensif.
Selain 25 orangutan, Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Kalimantan Barat juga mencatat 12 satwa lain yang dievakuasi dari kawasan terdampak karhutla, termasuk trenggiling, bekantan dan kukang.
Upaya penyelamatan pun masih dilakukan untuk membantu satwa yang terdampak kebakaran dan kehilangan habitatnya. Mama Penja dan Penja menjadi salah satu dari banyak satwa yang kini harus menjalani proses pemulihan setelah terdampak karhutla di Kalimantan Barat.






