Mengenal Bawor, Tokoh Wayang Jawa Terkenal Kasar Namun Suka Persaudaraan

Mengenal Bawor, Tokoh Wayang Jawa Terkenal Kasar Namun Suka Persaudaraan

Foto
Wayang Bawor (foto: Tokopedia)

Mengenali setiap tokoh wayang Jawa hingga saat ini masih saja menjadi salah satu hal yang menarik. Pasalnya, kisah cerita dari setiap tokoh wayang itu memiliki nilai-nilai sosial yang dapat menjadi pelajaran.

Dalam kesempatan ini, kita akan membahas tokoh wayang Jawa bernama Bawor. Bagi kamu yang ingin mengenalnya, langsung saja simak berikut ini:

Baca Juga: Mengenal Petruk, Tokoh Wayang Jawa Jago Kandang Namun Mudah Berlapang Dada

Silsilah Bawor

Dalam pewayangan, Bawor dikisahkan anak dari Semar. Bawor memiliki dua saudara, saudaranya itu bernama Gareng dan Petruk. 

Perlu juga diketahi, menurut cerita mulut ke mulut, Bawor tidak memiliki asal usul yang jelas. Bawor dikatakan hadir di dunia bukan dilahirkan melainkan diciptakan.

Ketika Sanghyang Ismaya turun ke dunia dengan menjelma menjadi Semar, dunia masih awang-uwung, belum ada satupun makhluk hidup di dalamnya.

Baca Juga: Mengenal Abimanyu, Tokoh Wayang Jawa Sangat Bertanggung Jawab dan Pemberani

Oleh karena itu kemudian Sanghyang Wenang menciptakan bayangan Semar menjadi sesosok manusia dengan postur tubuh yang relatif sama. Sosok manusia itu kemudian diberi nama Bawor yang bertugas menemani Semar.

Atas dasar dari kejadian itu, kemudian Bawor diakui sebagai anak tertua dari tokoh Semar. Anak kedua dan ketiga adalah Nala Gareng dan Petruk.

Sifat Bawor

Dalam pewayangan, Bawor dikisahkan memiliki sifat jujur, terbuka, merakyat, apa adanya, suka membela kebenaran, suka persaudaraan. Namun, dirinya sedikit terkenal kasar.

Baca Juga: Mengenal Dewi Arimbi, Tokoh Wayang Jawa Mengajarkan Ketulusan Hati Lebih Indah dari Perwujudan Fisik


Wujud Bawor

Bawor memiliki wujud berbadan tambun, bermata besar (melotot), bermulut lebar dan berjudat nonong. 

Tekstur tubuh tokoh Bawor memberikan makna bahwa seorang kawula atau batur seolah-olah memang dilahirkan dengan tampang jelek yang tidak mungkin lebih cakap dibanding dengan bendara atau tuannya. 

Keadaan fisik yang demikian selanjutnya akan mempengaruhi pola perilaku, sikap dan tindakan serta pola pikir dalam kehidupannya baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari komunitas sosial di lingkungannya.