Banyak tokoh wayang Jawa hingga saat ini masih menjadi salah satu hal yang menarik untuk mengenalinya. Pasalnya, sifat dan cerita dari setiap tokoh wayang itu memiliki nilai-nilai sosial yang dapat menjadi pelajaran.
Nah, kali ini kita akan membahas tokoh Jawa Togog. Bagi kamu yang ingin mengenal lebih jauh tokoh wayang ini, bisa langsung simak berikut ini:
Baca Juga: Mengenal Abimanyu, Tokoh Wayang Jawa Sangat Bertanggung Jawab dan Pemberani
Silsilah Togog
Dalam pewayangan Jawa, Togog anak dari pasangan Sang Hyang Tunggal dan Rekathawati. Togog memiliki dua adik bernama Bathara Guru dan Semar. Togog juga disebut cucu dari Sanghyang Wenang yang merupakan penguasa kahyangan.
Kisah Togog
Pada suatu hari, Rekathawati bertelur dan seketika itu telur tersebut terbang ke hadapan Sang Hyang Wenang. Setiba di hadapan Sang Hyang Wenang, telur tersebut menetas sendiri dan terwujudlah tiga makhluk antropomorfis. Yang muncul dari kulit telur dinamai Tejamantri (Togog), putih telur menjadi Ismaya (Semar), dan kuning telur menjadi Manikmaya (Batara Guru).
Pada suatu hari, Sanghyang Wenang mengadakan sayembara untuk menjadi penguasa kahyangan. Sayembara ini pun diikuti ketiga cucunya yaitu Togog, Semar, dan Batara Guru. Sayembara itu syaratnya adalah menelang Gunung Jamurdipa dan memuntahkan kembali secara utuh.
Karena anak pertama, Togog menjadi peserta urutan pertama, namun ternyata Togog gagal melakukannya, malah akibatnya ia mengalami robek pada mulutnya.
Selanjutnya Semar melakukannya. Ia berhasil menelan gunung tersebut secara utuh, namun Semar gagal memuntahkannya, hingga perutnya membuncit.
Karena Gunung tersebut musnah ditelan Semar, akhirnya yang memenangkan sayembara tersebut adalah Batara Guru yang merupakan cucu paling bungsu.
Karena gagalnya Semar dan Togog, akhirnya mereka ditugaskan turun ke bumi untuk menjadi pamong dan penasihat alias pembisik arti kehidupan kepada manusia agar manusia berbuat kebajikan.
Baca Juga: Mengenal Semar, Tokoh Wayang Jawa Punya Fisik Bulat dan Bersifat Jujur dan Tulus
Naas, Semar yang berhasil menelan gunung mendapatkan hadiah berupa menjadi penasihat para ksatria berwatak baik. Sedangkan Togog yang gagal menelannya mendapat hukuman menjadi pamong para ksatria yang berwatak buruk.
Ia pun harus menemani kaum aristokrat yang berhati busuk dari masa ke masa. Namun kehadiran Togog dalam pewayangan ini hanya sebagai pelengkap penderita saja.
Di dalam pementasan wayang, ia selalu gagal membisikan kebaijkan ke orang-orang yang diikutinya. Angkara murka pun terus mengalis, watak budi terapung. Togog pun dianggap gagal sebagai dewa.
Baca Juga: Mengenal Dewi Arimbi, Tokoh Wayang Jawa Mengajarkan Ketulusan Hati Lebih Indah dari Perwujudan Fisik
Sifat dan Wujud Togog
Dalam pewayangan, Togog memiliki sifat cukup jelek. Pasalnya, dirinya tidak memiliki kesetiaan. Hal ini dikerenakan Togog suka berganti-ganti majikan di setiap tempat dan setiap waktu. Tidak hanya itu, Togog juga disebut bermental penjilat, oportunis, dan menafikan kebenaran demi meraih nafsu duniawi.
Togog memiliki wujud mulut lebar, mata juling, hidung pesek, tak bergigi, kepala botak, bahkan rambutnya hanya di tengkuk saja, bergelang, dan memiliki suara nge-bass atau rendah besar.