Ini Perbedaan Ketupat, Lemang, dan Lontong yang Wajib Kamu Ketahui

Ini Perbedaan Ketupat, Lemang, dan Lontong yang Wajib Kamu Ketahui

Alpandi Pinem
2020-05-25 19:11:20
Ini Perbedaan Ketupat, Lemang, dan Lontong yang Wajib Kamu Ketahui
Ketupat, Lemang, dan Lontong (Istimewa)


Saat Lebaran, sayur bersantan dengan paduan ayam dan daging sapi jadi suguhan. Dilengkapi dengan ketupat, lemang atau lontong. Baik ketupat, lontong dan lemang sama-sama dibungkus dengan daun dan dibuat dari beras.

Meski terlihat sama, namun ketiganya dibuat dengan cara yang berbeda dan disajikan dengan masakan khas. Lemang dan lontong sama-sama dibuat dengan lapisan daun pisang. Sedangkan ketupat dibuat dengan daun kelapa muda yang sudah dianyam. Tentunya dari segi rasa dan aroma berbeda.

Berikut ini beberapa perbedaan antara ketupat, lontong dan lemang.

1. Ketupat


Ketupat merupakan teknik pemasakan nasi dengan cara dibungkus daun terlebih dahulu. Ketupat menggunakan anyaman daun kelapa yang masih muda sehingga membentuk delapan sudut. Biasanya ketupat memiliki celah --atau sebutannya selongsong-- untuk kemudian dimasukkan beras 3/4 bagian. Kemudian ketupat direbus dalam air hingga matang.

Dalam filsafat Jawa, ketupat atau kupat berarti 'ngaku lepat' atau mengakui kesalahan. Itulah mengapa, makanan ini menjadi ikon saat perayaan Idul Fitri.

Baca Juga : Menjunjung Duli, Tradisi Ratusan Tahun Kesultanan Deli Saat Idul Fitri

Selain itu, ketupat juga menjadi sajian kala upacara daur hidup manusia seperti pada kehamilan bulan keempat. Sementara dalam makanan sehari-hari ketupat menjadi pelengkap hidangan seperti gado-gado, kupat tahu, kupat gule, kupat opor, dan masih banyak lagi.

2. Lemang


Berbeda dengan ketupat, lemang dimasak dengan teknik melemang atau menggunakan buluh bambu. Dalam proses pembuatan lemang cukup memakan banyak waktu, yakni sekitar 5-7 jam. Bilah bambu yang sudah dilapisi daun pisang dan diisi beras akan dibakar di atas api.

Namun tak serta-merta meletakkan bambu di atas api besar, melainkan ditegakkan agar tak gosong. Oleh karena itu, dalam memasaknya dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan untuk membolak-balik bambu hingga lemang matang merata.

Baca Juga : Karas karas, Kue Khas Melayu dari Asahan Dan Batu Bara

Nasi lemang yang telah masak tak langsung bisa dimakan, harus didinginkan terlebih dahulu. Kemudian, barulah lemang dikeluarkan dari dalam bambu, dan dipotong kecil-kecil agar mudah menyantapnya.

Dahulu lemang menjadi makanan khas Idul Fitri di Sumatera. Namun kini, tepatnya di kota Tebing Tinggi, lemang diproduksi secara massal sehingga bisa dimakan untuk sehari-hari. Lemang juga disebut dengan berbagai nama; ada lomang (Batak), lemang (Melayu), dan lamang (Minang).

3. Lontong


Sekilas lontong mirip dengan lemang, hanya saja ukurannya lebih kecil sehingga bisa dimakan secara individu. Lontong berbentuk bulat panjang dengan isian nasi yang padat dan dibalut daun pisang.

Nasi kehijauan ini memiliki tekstur kenyal dan lembut, serta bisa bertahan hingga dua hari dalam lemari pendingin. Di Indonesia lontong populer sebagai pelengkap sajian kuliner khas seperti sate, lontong balap, lontong sayur, dan ketoprak.

Baca Juga : Sekubal, Kuliner Khas Lampung yang Mirip Lontong Saat Lebaran

Cara membuat lontong adalah dengan mencetak daun pisang terlebih dahulu menjadi bentuk silinder. Kemudian salah satu ujungnya disematkan dengan lidi. Sementara sisi lainnya diisikan beras hingga memenuhi sepertiga bagian daun, lalu ditutup kembali dengan lidi.

Memasaknya juga terbilang lebih mudah bila dibandingkan ketupat maupun lemang. Lontong yang sudah diisi tinggal direbus dalam air mendidih yang biasanya sudah diberi sedikit garam. Jika sudah matang, maka lontong hanya perlu dipotong kecil-kecil kemudian disajikan sesuai selera.


Share :