Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta estimasi 3.560 kematian akibat polusi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia dikaji lebih lanjut. Angka tersebut berasal dari laporan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), lembaga penelitian kualitas udara yang berbasis di Helsinki, Finlandia.
Dilansir Republika, Senin (2/11/2026), CREA memperkirakan polusi akibat karhutla menyebabkan 3.560 kematian di Indonesia sepanjang September 2026.
Angka tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan estimasi pada Agustus. Dalam laporan yang sama, CREA juga memperkirakan sebanyak 57,8 juta penduduk Indonesia terpapar kualitas udara tidak sehat hingga berbahaya selama September.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan pihaknya telah mencermati laporan tersebut.
Namun, ia menilai perlu ada penjelasan lebih lanjut mengenai metodologi, sumber data, periode penghitungan, serta kontribusi asap karhutla dibandingkan sumber pencemaran udara lainnya.
Menurut Berton, estimasi kematian berdasarkan pemodelan dampak paparan polutan berbeda dengan jumlah kematian yang tercatat dan terverifikasi secara individual dalam sistem pelayanan kesehatan.
Karena itu, penilaian dampak kesehatan membutuhkan data dan analisis dari instansi yang memiliki kewenangan di bidang kesehatan serta kualitas udara.
Meski demikian, BNPB menegaskan bahwa perbedaan metode penghitungan tidak boleh mengurangi keseriusan dalam melindungi masyarakat dari dampak karhutla.
Upaya pencegahan dan pemadaman kebakaran perlu berjalan beriringan dengan pemantauan kualitas udara, penyampaian informasi risiko, serta perlindungan kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat dengan penyakit pernapasan.
BNPB juga menilai dampak karhutla tidak cukup diukur dari luas lahan yang terbakar atau jumlah titik panas. Gangguan kesehatan masyarakat, aktivitas sehari-hari, pendidikan, perekonomian, dan kualitas lingkungan turut menjadi aspek penting dalam penanganan bencana.
Sementara itu, laporan CREA memperkirakan total 5.310 kematian berkaitan dengan polusi udara di Indonesia selama September 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.560 kematian dikaitkan dengan polusi akibat karhutla, sedangkan 1.750 lainnya berkaitan dengan sumber pencemaran non-karhutla, seperti industri, pembangkit listrik, dan transportasi.
Angka-angka tersebut merupakan estimasi berbasis pemodelan, bukan jumlah korban yang telah diverifikasi secara individual.





