Kota Palembang masih diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Jumat (2/10/2026). Kondisi ini membuat kualitas udara di sejumlah wilayah Palembang berada pada level berbahaya.
Pantauan di beberapa ruas jalan menunjukkan kabut asap terlihat cukup pekat sejak pagi hingga siang hari. Kondisi tersebut terlihat di sejumlah kawasan, termasuk Jembatan Ampera, Jalan Jenderal Sudirman, hingga Jalan Demang.
Seorang pengendara motor bernama Nina (22) mengaku kabut asap sudah terasa cukup pekat dalam beberapa hari terakhir. Ia juga merasakan dampaknya saat harus beraktivitas di luar rumah.
''Sudah beberapa hari belakangan cukup pekat asapnya, kalau sedang bermotor kadang mata terasa perih. Jadi kalau bukan karena kerja saya hanya di rumah, mengurangi aktivitas di luar karena untuk menjaga kesehatan," ujar Nina.
Sementara itu, berdasarkan data pemantauan kualitas udara BMKG, konsentrasi partikulat halus (PM2.5) di Stasiun PM2.5 Musi 2 dan Talang Betutu sempat mencapai level berbahaya pada Jumat (2/10/2026).
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menyebut konsentrasi PM2.5 di Musi 2 mencapai 652,7 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB. Pada waktu yang sama, PM2.5 di Talang Betutu tercatat 592,5 µg/m³.
Menurut Wandayantolis, kualitas udara di Palembang sudah berada pada status berbahaya sejak dini hari. Kondisi tersebut kemudian sempat membaik ke level sangat tidak sehat pada pukul 10.00 dan 11.00 WIB.
Namun, kualitas udara kembali masuk level berbahaya pada pukul 12.00 WIB dengan konsentrasi PM2.5 tercatat 253,1 µg/m³.
Kondisi kabut asap ini membuat sebagian warga memilih mengurangi aktivitas di luar rumah.
Nina berharap penanganan kebakaran dapat segera dilakukan agar kabut asap berkurang dan kondisi udara di Palembang kembali membaik.






