Respons Ali Imron Mantan Teroris Soal Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makassar

Respons Ali Imron Mantan Teroris Soal Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makassar

Ekel Suranta Sembiring
2021-03-31 03:52:17
Respons Ali Imron Mantan Teroris Soal Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makassar
Respons Ali Imron Mantan Teroris Bomber Bali Terkait Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makassar (foto: istimewa)

Aksi teror bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan yang terjadi pada Minggu (28/03/2021) lalu, kini direspon mantan teroris eks bomber Bali, Ali Imron.


Baca Juga: Yogi Fortuna, Pelaku Wanita Bom Makassar Ternyata Hamil 4 Bulan, Simak Penjelasan Mertua



Saat menjadi narasumber dalam program Kabar Petang, Senin (29/3/2021), Ali Imron mengatakan sejauh ini masih banyak yang mengantri untuk mendaftar melakukan aksi semacam itu.

Baca Juga: Penampakan Desain Istana Ibu Kota Baru Karya Nyoman Viral di Media Sosial

Ali Imron mengawali dengan cerita dengan menyoroti pertanyaan apakah bom sebagaimana dibuat pelaku bom di Gereja Katedral Makassar bisa dikatakan canggih.

Dia mengatakan, sebenarnya bom itu kurang bisa disebut canggih karena cara membuatnya terbilang mudah.

"Dari pengalaman saya tahu. 20 tahun lalu kami melakukan pengeboman di beberapa gereja di berbagai kota, saya kebagian di Mojokerto. Ini terulang lagi bahkan memprihatinkan dengan cara bunuh diri," terangnya seperti dikutip dari saluran YouTube TV One News, Selasa (30/3/2021).


Baca Juga: Fakta-fakta Pelaku Bom Makassar Tulis Surat Wasiat Buat untuk Sesama Muslim dan Kristen, Ini Isinya



Ali Imron kemudian menguraikan kemungkinan tujuan aksi bom bunuh diri yang diduga dilakukan pasutri yang baru menikah enam bulan itu dan bagaimana cara mencegahnya.

"Nah apa yang terjadi sebetulnya? Sering saya sampaikan sosialisasi terhadap terorisme di Indonesia itu penting. Kenapa? Supaya masyarakat Indonesia itu ngerti benar apa fakta teroris itu, karena masih banyak yang belum tahu," tukas Ali Imron.

"Ketika belum tahu akhirnya tidak tahu ketika ada teroris yang masuk di kalangan mereka, mengajarkan paham, tidak ada yang mengantisipasi. Masyarakat banyak yang tidak tahu," sambung dia.

Terkait dugaan pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Ali Imron mengaku masih banyak yang rebutan untuk mendaftar.

"Untuk melakukan aksi bunuh diri, sekarang masih banyak yang rebutan daftar. Bagi masyarakat gak usah heran," terangnya.

"Aksi yang diniatkan sebagai aksi jihad dengan cara bunuh diri, itu sekarang masih banyak yang rebutan mendaftar. Karena yang diniatkan itu melakukan aksi jihad, pahala besar, ketika mati mati syahid, mulia," tambah Ali Imron.

Baca Juga: Penjelasan BIN Terkait Rekrutmen Teroris di Medsos hingga Melakukan Banyak Cara untuk Mengelabui Petugas

Meski begitu, menurut dia yang perlu diantisipasi sekarang ialah apakah aksi semacam itu tergolong benar, sehingga harus dipahamkan.

Terkait aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Ali mengatakan merupakan aksi pembalasan. Pasalnya, sebelum menjalankan aksi, sejumlah terduga di beberapa daerah ditangkap polisi.

"Pihak teroris baik alirannya Al-Qaeda maupun ISIS, terutama di Indonesia masih mengaitkan dengan peristiwa Ambon dan Poso," kata Ali Imron.

"Peristiwa Ambon dan Poso itu sudah selesai ketika ada perjanjian Malino 1 dan Malino 2."

Karena itu, Ali Imron selaku mantan teroris mengajak pihak-pihak yang masih melakukan aksi teror untuk segera sadar.

"Sebagai umat Islam atau kita yang mengaku mujahid, ayo kita sadar bahwa perjanjian damai itu terwakili," jelas Ali Imron.

"Ada perwakilan dari kita umat Islam, ayo sadar."

Lebih lanjut, Ali Imron menduga pengeboman di depan Gereja Katedral Makassar merupakan bentuk pembalasan.

Ia pun menyinggung sejumlah terduga teroris yang ditangkap beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Fakta-fakta Video Oknum Polwan Polres Pati Selingkuh dengan Senior Digrebek Suami

"Hal itu terus sampai sekarang, begitu saya dengar berita tentang aksi bom bunuh diri di depan Katedral Makassar," ucapnya.

"Dalam benak saya, ini kemungkinan besar aksi pembalasan."

"Karena ada rombongan teroris yang ditangkap di Makassar dan sekitarnya, dan Gorontalo, akhirnya diangkut ke Jakarta."


Share :