Penjelasan BIN Terkait Rekrutmen Teroris di Medsos hingga Melakukan Banyak Cara untuk Mengelabui Petugas

Penjelasan BIN Terkait Rekrutmen Teroris di Medsos hingga Melakukan Banyak Cara untuk Mengelabui Petugas

Ekel Suranta Sembiring
2021-03-30 23:56:31
Penjelasan BIN Terkait Rekrutmen Teroris di Medsos hingga Melakukan Banyak Cara untuk Mengelabui Petugas
Deputi VII BIN, Wawan Hari Purwanto (foto: Sonora.id)

Ternyata teroris memiliki banyak cara agar selalu dapat membuat aksi teror. Dari melakukan rekrutmen di media sosial (medsos) hingga melakukan banyak cara untuk mengelabui petugas.

Hal ini disampaikan Deputi VII BIN, Wawan Hari Purwanto dalam tayangan D'Rooftalk: 'Teror Bomber Milenial' di detikcom, Selasa (30/3/2021). Ia juga mengatakan, aksi terorisme di Indonesia terus bergerak. Namun pemerintah terus mengejar mereka.

Baca Juga:  Fakta-fakta Terbaru Bom Bunuh Diri di Gereja Kategral Makassar, Terdapat Komentar Miris Pelaku Sebelum Meninggal

"Dari tahun 2015 sudah terkuak terus ya setelah sebelumnya juga mereka dari Poso lari ke situ juga. Kemudian juga pernah ada rencana mau membunuh Gubernur dan lain sebagainya. Ini semua terus kita ikuti dari waktu ke waktu, termasuk pergerakan dia ke provinsi lain termasuk ke Nusa Tenggara Barat, di Jawa, maupun di Sumatera," kata Wawan.

Wawan mengatakan jaringan terorisme itu terus merekrut anggota baru di medsos. Hal itu dideteksi oleh patroli siber.

"Jadi semua mengindikasikan bahwa memang mereka disamping terus bergerak juga melakukan rekrutmen baru. Rekrutmen baru ini juga belum tampak di awal sehingga saya melakukan patroli siber bagaimana apa yang terjadi di dunia maya dan kita lakukan counter maupun melakukan upaya memblok juga mempidanakan kalau memang susah ya dikasih tahu. Akhirnya dari mereka itu kita buru," tutur Wawan.

Wawan menyebut jaringan teroris itu tidak berkelompok, namun berpencar di berbagai daerah. Jaringan teroris ini, kata Wawan juga melakukan banyak cara untuk mengelabui petugas.

"Dan memang kita sadari bahwa kalau mereka mencerai-beraikan diri mereka berlarinya itu berpencar. Tidak pada satu titik, kecuali kalau mereka menggerombol di suatu titik, itu mudah kita tangkap bareng-bareng. Bahkan kita tahu bahwa kita akan lakukan penangkapan dia berpencar larinya dengan menggunakan berbagai pola yang diubah, nama dan pola komunikasinya semua berubah, dan di sana mereka melakukan rekrutmen dan melakukan perencanaan-perencanaan pergerakan. Itulah sebabnya maka perburuan terhadap perlakuan teror satu per satu itu dipetik, tidak rombongan gitu, karena mereka berada di dalam posisi melakukan penceraiberaian, pengingkaran, penghapusan jejak serta bentuk upaya pengelabuan-pengelabuan petugas," jelas dia.

Lebih lanjut, Wawan menyatakan, sejak ISIS di Suriah jatuh, pimpinan ISIS meminta untuk melakukan penyerangan di negeri masing-masing dengan persenjataan ataupun apa yang mereka miliki. Mereka juga aktif dalam mencari dana.

Baca Juga: Fakta-Fakta Ketum PBNU Sebut Ajaran Wahabi dan Salafi Benih Terorisme, Memecah Belah Keharmonisan Sosial

"Mereka memang di Suriah jatuh pimpinan ISIS mengatakan bahwa mereka memerintahkan untuk menyerang di negeri masing-masing, dengan cara masing-masing, dengan persenjataan ataupun apa yang mereka miliki. Itulah sebabnya mereka masing-masing bergerak sesuai dengan kondisi medan-medan yang ada dan ini kalau mereka punya grand skenario untuk menyerang iya, mereka memang ada rencana seperti itu. Kita juga sadari mereka secara terus menerus mencoba juga menggali dana dalam berbagai lini untuk memasok logistik dalam pelariannya dan juga penyiapan-penyiapan apa yang diperlukan kalau nanti sudah tiba saatnya melakukan pengantin tadi," kata dia.

Hingga saat ini, Wawan menyebut pola yang dilakukan oleh jaringan terorisme ini mulai terkuak satu per satu. Di antaranya adanya aktivitas terorisme ini dilakukan melalui online. Wawan mengatakan pemerintah terus berupaya untuk melakukan pencegahan dan pengejaran.

"Sejumlah temuan sekarang mulai terkuak satu per satu. Temuan bahan peledak yang mulai mereka kumpulkan, kemudian teknik pembuatan bomnya yang dia pelajari juga lewat online, bisa bertanya di situ kalau ada kesulitan, ada yang men-drive. Ini sekarang kan memang pola yang mereka sampaikan, sistem ajarannya lewat online itu. Kita sebetulnya sudah sejumlah akun-akun ini kita drop kemudian kita juga counter maupun kita kejar secara hukum. Memang ketika sejumlah akun ditutup, muncul akun yang berbeda, saya kira memang kejar-kejaran terus, akun itu jumlahnya sudah banyak sekali," tutur Wawan.

Baca Juga: Komentar Pelaku Bom Bunuh Diri di Gereja Kategral Makassar Sebelum Meninggal Viral di Media Sosial, Isinya Miris

"Oleh karenanya kalau misalnya sekarang mereka pola menyerang situasi disesuaikan kondisi yang ada, tapi pada saat aparat siaga mereka tiarap, tapi aparat sibuk di tengah perhelatan tertentu mereka mencoba menyelinap masuk, maka selalu kita dorong semua pihak, terutama di objek-objek vital maupun tempat-tempat ibadah dan tempat penting lainnya untuk meningkatkan kapasitas. Dan mempersiapkan diri jika itu ada sesuatu yang mencurigakan cepat ambil langkah sigap," sebut Wawan.


Share :

HEADLINE  

Clara Shinta Bongkar Dugaan Perselingkuhan Suami, VCS dengan Selebgram

 by Frida Tiara Sukmana

March 30, 2026 14:00:00


Richard Lee Ditahan Lebih Lama, Polisi Perpanjang Masa Tahanan 40 Hari

 by Frida Tiara Sukmana

March 28, 2026 15:00:00


Iko Uwais Ungkap Perbedaan Adegan Laga Film Indonesia dan Hollywood

 by Frida Tiara Sukmana

March 26, 2026 15:00:00


Konflik Tasyi-Tasya Memanas Lagi, Ibu Ungkap Dibentak soal Foto Lebaran

 by Frida Tiara Sukmana

March 24, 2026 11:00:00


Review Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Horor Klasik yang Makin Matang

 by Frida Tiara Sukmana

March 23, 2026 11:00:00


Irma Novita Jadi ‘Mak’ di Na Willa, Refleksi Pola Asuh Otoriter

 by Frida Tiara Sukmana

March 21, 2026 17:00:00