Tumbuh Liar di Hutan Sibolga, Tanaman Ini Jadi Komoditas Ekspor yang Menjanjikan

Tumbuh Liar di Hutan Sibolga, Tanaman Ini Jadi Komoditas Ekspor yang Menjanjikan

Enda Tarigan
2020-06-25 17:48:00
Tumbuh Liar di Hutan Sibolga, Tanaman Ini Jadi Komoditas Ekspor yang Menjanjikan
Tumbuhan liar di hutan Sibolga yang jadi komoditas ekspor yang menjanjikan. (Foto: correcto/Stepanus Purba)

Tumbuhan liar bernama porang (Amorphophallus oncophyllus) dari hutan di Sibolga, Tapanuli Tengah menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan asal Sumut yang akan dikirim ketiga negara, yakni Cina, Thailand dan Vietnam.

Kepala Karantina Pertanian Belawan, Hasrul mengatakan, sinergisitas dengan berbagai pihak dilakukan sejak tahun lalu. Di mana, dari data pada sistem perkarantinaan IQFAST di Karantina Pertanian Belawan tercatat fasilitasi ekspor ketiga negara selama periode semester I/2020 tercatat 362 ton dengan nilai barang Rp 7,2 milyar.

Sementara pada periode yang sama tahun lalu hanya berhasil membukukan 8,8 ton dengan nilai barang Rp 93 juta dan dengan tujuan ekspor Cina saja.

Baca Juga: Darurat Corona di DIY Diperpanjang, New Normal Tak Jadi Juli

"Alhamdulillah telah menbuahkan hasil meningkatnya volumenya dan tujuan negara ekspor untuk komoditas porang Sibolga ini," katanya, Rabu (24/6/2020).

Hasrul menjelaskan bahwa porang biasa disebut Atturbung di daerahnya memiliki keunggulan dengan ukurannya yang besar. Rata-rata memiliki berat hingga 50-100 kilogram dan inilah yang menjadi daya tarik bagi para importir asal tiga negara tersebut, ukurannya yang raksasa.

"Para calon pembeli asal luar negeri saat melakukan kunjungan ke lahan petani porang di Sibolga juga mendapat pendampingan dari pejabat Karantina Pertanian Belawan. Hal ini guna memastikan seluruh persyaratan teknis dalam protokol ekspornya dapat dipenuhi nantinya," jelasnya.

Selain itu, menurut Hasrul bahwa porang yang berasa dari Sibolga itu memiliki serat yang tinggi dan mengandung  kandungan glukoma.

"Kini setelah ekspor berjalan, komoditas raksasa ini sangat diminati industri pengolahan makanan di negara tujuan, selain bentuknya yang besar juga karena memiliki serat yang tinggi dan kandungan glukomanannya hingga 45 sampai 50 persen," ucapnya.

Sementara itu, Hilirasasi Produk Pertanian Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil secara terpisah menyebutkan, sejalan dengan gerakan tigakali lipat ekspor (Gratieks) yang digagas oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, pihaknya selaku fasilitator pertanian di perdagangan internasional melakukan sinergisitas dengan berbagai pihak.

Baca Juga: Hasil Survei SMRC terkait Corona: Optimisme Publik Soal Kondisi Ekonomi Menguat

"Harapannya akan dapat bertumbuh ragam komoditas baru yang menjadi unggulan ekspor daerah dan menjadi sentra berbentuk kawasan," ujarnya.

Ali mengungkapkan bahwa pengembangan kawasan dengan skema wanatani atau agrogorestri dapat menjadi pilihan untuk budidaya porang yang banyak tumbuh di area kehutanan.

Juga untuk komoditas unggulan dari Tapanuli Tengah lainnya yang sudah masuk pasar ekspor seperti pinang, kayu manis dan kayu lapis, pengembangan dalam bentuk kawasan perlu terus didorong.

"Hal ini untuk memudahkan dalam pengembangan pertanian skala industri. Agar dapat terjaga baik dalam jumlah produksi, mutu dan kontinuitasnga, sehingga sukses di pasar global," ungkapnya.

Saat ini Kementan terus membenahi iklim invetasi pertanian yakni dengan deregulasi dan penyediaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha.

"Ke depan, jangan lagi porang ini kita ekspor dalam bentuk mentah. Agar bisa bernilai tambah dorong hilirisasi agar ekspornya dalam bentuk ramen dan tepung, minimal setengah jadi," tandas Ali.

Penulis: Stepanus Purba
Editor: Enda Tarigan

Share :