Tradisi panahan atau Jemparingan telah ada sejak ratusan tahun silam. Para prajurit di zaman kerajaan Mataram melakukan tradisi ini guna melatih konsentrasi. Dulu ia memang hanya dimainkan oleh prajurit atau bangsawan. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi ini mulai dibawa keluar tembok keraton dan dimainkan oleh rakyat sebagai hiburan sekaligus bentuk pelestarian budaya.
"Ketika pertama kali membuat (panah), bentuk busur saya amatlah sedehana. Karena memang peralatan yang belum ada. Waktu dulu, aturan yang sekarang digunakan untuk membuat busur panah ini memang belum ada aturan. Aturan sekarang kan sebaiknya setinggi pemanah. Nah, kalau dulu tidak, ada yang lebih panjang ada yang lebih pendek," kata Eddy roostopo, salah satu perajin panah Jumparingan.
Baca juga: Ayam Bekakak, Kuliner Khas Sunda yang Lezat, Begini Cara Membuatnya
Berbeda dengan panahan pada umumnya, jemparingan dilakukan dengan posisi duduk bersila atau sembari menunggang kuda. Peserta pun diwajibkan untuk mengenakan pakaian tradisional. Meski sempat meredup, kini jemparingan kembali hidup dan diminati oleh generasi muda. Tradisi ini masih sering dijumpai di acara-acara budaya di Yogyakarta.
"Karakter pemanah juga harus disesuaikan dengan busur yang digunakan. Ada beberapa macam karakter busur. Busur yang kekuatannya agak pelan dan akurasinya tinggi, ada yang biasa, dan ada juga yang larinya kencang sekali tapi akurasinya kurang tinggi" jelas Eddy.
"Karakter itu tergantung emban atau lengkungan busur ini. Lengkungannya ada yang di dalam (dekat pegangan), ada yang di tengah, ada yang di ujung, dan ada yang rata. Ada dua lagi, ada emban mati dan emban jalan," lanjutnya.
Karakter dari pemanah itu disesuaikan dengan emban yang digunakan. Misanya, pemanah tersebut orangnya mudah marah, lebih baik menggunakan emban yang lari anak panahnya sedikit lambat. Tapi jika pemanah itu orangnya sudah tua atau penyabar, bisa menggunakan emban dengan kekuatan lari anak panah yang kencang.