Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut gempa magnitudo 6,8 yang terjadi di Daruba, Maluku Utara (Malut) terjadi karena aktivitas lempeng di Laut Filipina. Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan hindari bangunan yang retak.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat adanya aktivitas subduksi lempeng Laut Filipina. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault)," ucap Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, dalam keterangannya, Kamis 4 Juni 2020.
Baca Juga: Soal Pijat Plus-plus Gay, Pemko Medan: Aktivitasnya Terselubung
Guncangan gempa bumi ini dirasakan di daerah Morotai dalam skala IV MMI yang artinya bila gempa terjadi siang hari dirasakan banyak orang dalam rumah. Gempa juga dirasakan di Manado, Bitung, Minahasa, Bolmong, Ternate, Sitaro, Tahuna, Tobelo, Sofifi, dan Talaud dalam skala II-III MMI yang artinya getaran dirasakan nyata dalam rumah seakan akan truk berlalu.
Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut.
Baca Juga: Covid-19 Belum Berakhir Penutupan Kawasan Objek Wisata Di Karo Di Perpanjang
"Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," kata Rahmat.
"Kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa. Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum Anda kembali ke dalam rumah," kata Rahmat.