Misteri di Pulau Pannikiang, Sulawesi Selatan

Misteri di Pulau Pannikiang, Sulawesi Selatan

Ahmad
2020-06-03 16:27:18
Misteri di Pulau Pannikiang, Sulawesi Selatan
Foto: Istimewa

Pulau Pannikiang yang penduduknya hanya 75 orang dengan luas 90.45 hektare. Pulau ini terletak di Sulawesi Selatan, dari daratan Kabupaten Barru, dekat kantor Desa Madello. Menuju Pannikiang, makan waktu sekira 20 menit lebih.

Di sana agak kotor. Banyak sampah plastik. Sementara di lautnya banyak daun-daun gugur dan ganggang yang mati. kata Kepala Dusun Pannikiang, Zulkifili.

Baca Juga: Ini Kisah Mistis Manusia Belang di Kaki Gunung Bulu Pao

Di Pannikiang, ia menunjukkan bagaimana cara hidup orang-orang pulau. Gemar bekerja, memanfaatkan peralatan memasak seadanya dan hidup sederhana. Tak ada listrik langsung dari kota, kecuali memakai genset. Orang-orang pulau tidak gemar membuang sampah sembarangan.

Di Pannikiang, tumbuh menjulang pohon bakau. Data dari laman resmi Kabupaten Barru, ada 43 jenis mangrove yang daunnya hijau dan segar. Sayangnya, banyak sampah plastik botol minuman dan makanan kemasan yang terselip di akar bakau.

"Bakau ini tumbuh karena kiriman juga. Jadi bakal buah bakau yang dibawa air laut dari tempat yang jauh, akhirnya singgah ke pulau ini, dan tumbuh besar sampai sekarang," terang Zul.

Banyak orang yang percaya bahwa memangsa kalong sama dengan menyembuhkan diri dari penyakit-penyakit yang serius. Meski begitu, kepercayaan tersebut belumlah terang penjelasan ilmiahnya dari sisi akademik.

Baca Juga: Ngeri, Ini Pulau Hantu Dutungan, Ada Gua yang Konon Jadi Tempat Persembunyian Penjajah Jepang

Dalam jurnal yang berjudul Kandungan Mikrob Daging Kelelawar yang Diolah sebagai Bahan Pangan Tradisional (Tiltje Andretha Ransaleleh, 2013). Disebutkan kalau kelelawar memang bisa diolah menjadi bahan makanan.

Ia mengambil sampel di Manado. Di sana, orang-orang percaya akan khasiat kelelawar. Masyarakat di sana kerap mengolah daging kelelawar menjadi kelelawar rica-rica dan kelelawar kari.

Nama orang yang pertama menginjakkan kakinya di Pannikiang adalah Koe. Ia perempuan. Warga sekitar percaya hal itu dari mimpi seorang warga, yang turun-temurun ceritanya.

Konon, Koe berujar dalam mimpi seorang tetua di Madello, agar mendatangi seonggok tanah sesuai titik yang sekarang jadi kuburannya.

Di sebelah Koe, ada kuburan juga. Itu kuburan dari suami Koe. Namanya tidak jelas. Hanya dinamakan Suami Koe saja di nisannya. "Itu juga lewat mimpi. Tetua menguburkannya di samping Koe. Tidak jelas namanya. Tidak ada fakta sejarah yang kuat."

Sampai sekarang, mereka hanya percaya satu pesan yang juga disampaikan lewat mimpi, kalau pulau Pannikiang, tak boleh ada seorang yang mengikat sarung di pundaknya. "Efeknya bisa sakit. Koe tidak suka orang yang seperti itu."


Share :

HEADLINE  

Clara Shinta Bongkar Dugaan Perselingkuhan Suami, VCS dengan Selebgram

 by Frida Tiara Sukmana

March 30, 2026 14:00:00


Richard Lee Ditahan Lebih Lama, Polisi Perpanjang Masa Tahanan 40 Hari

 by Frida Tiara Sukmana

March 28, 2026 15:00:00


Iko Uwais Ungkap Perbedaan Adegan Laga Film Indonesia dan Hollywood

 by Frida Tiara Sukmana

March 26, 2026 15:00:00


Konflik Tasyi-Tasya Memanas Lagi, Ibu Ungkap Dibentak soal Foto Lebaran

 by Frida Tiara Sukmana

March 24, 2026 11:00:00


Review Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Horor Klasik yang Makin Matang

 by Frida Tiara Sukmana

March 23, 2026 11:00:00


Irma Novita Jadi ‘Mak’ di Na Willa, Refleksi Pola Asuh Otoriter

 by Frida Tiara Sukmana

March 21, 2026 17:00:00