Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, yang menjadi salah satu habitat penting orang utan.
Kobaran api yang terlihat di kawasan konservasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap kelestarian habitat satwa liar, terutama jika kebakaran meluas ke area hutan lainnya.
Informasi kebakaran dibagikan oleh akun Instagram tanjungputing_wongutantouris pada Sabtu (17/10/2026). Sehari kemudian, akun orangutanhouseboattour melaporkan bahwa api telah menjalar hingga ke tepian Sungai Sekonyer yang berada di dalam kawasan taman nasional. Tim di lapangan dilaporkan terus berupaya memadamkan api dan mencegah penyebarannya.
Balai Taman Nasional Tanjung Puting melalui akun Instagram @btn_tanjungputing turut melaporkan penanganan kebakaran di tiga wilayah resor, yakni Teluk Pulai, Pesalat, dan Sungai Perlu.
Upaya pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan didukung operasi water bombing, yaitu menjatuhkan air dari helikopter untuk membantu memadamkan titik api.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga menyampaikan rencana penanganan lanjutan berupa pembukaan jalur darat dan pembangunan sumur bor di sejumlah titik.
Kawasan Pesalat menjadi salah satu prioritas karena titik api di wilayah tersebut dinilai paling dekat dengan zona inti taman nasional.
Kebakaran ini menjadi ancaman serius bagi upaya perlindungan ekosistem Taman Nasional Tanjung Puting. Selain orang utan, kawasan tersebut juga menjadi rumah bagi berbagai satwa liar lainnya.
Jika api terus meluas, kerusakan habitat dapat mengganggu kehidupan satwa dan memperbesar tantangan dalam menjaga kelestarian kawasan konservasi.
Karena itu, upaya pemadaman dan pencegahan perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk membatasi penyebaran api serta melindungi habitat satwa liar di Taman Nasional Tanjung Puting.






