Presiden Prabowo Subianto mengganti Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, dengan Letjen TNI Kristomei Sianturi pada Kamis (15/10/2026).
Pergantian ini terjadi di tengah mencuatnya kasus dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa yang menggunakan Dana Siap Pakai (DSP) BNPB.
Kasus tersebut ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di lingkungan BNPB pada Selasa (13/10/2026).
Sehari setelahnya, KPK menetapkan lima orang sebagai tersangka dalam perkara dugaan penyalahgunaan dana kebencanaan.
Salah satu tersangka adalah Bima Setiawan, adik kandung Suharyanto yang juga bekerja sebagai tenaga ahli Kepala BNPB.
Empat tersangka lainnya adalah Richard Erlangga, Gabriel Purwaka Sigit, Syifa Nrika Ghifarin, dan Gery Prasetiawan. KPK menduga perkara ini berkaitan dengan penyalahgunaan dana serta pengaturan pengadaan barang dan jasa.
KPK menduga praktik korupsi terkait Dana Siap Pakai BNPB telah berlangsung sejak 2022.
Dana tersebut sejatinya disiapkan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan mendesak dalam penanganan bencana, sehingga penggunaannya menjadi bagian penting dalam upaya melindungi masyarakat terdampak.
Setelah resmi menjabat, Kristomei Sianturi menyatakan akan melakukan konsolidasi dan pembenahan internal BNPB.
Ia juga menegaskan bahwa lembaganya tidak akan mengintervensi proses hukum yang sedang berjalan di KPK. Menurutnya, penanganan perkara sepenuhnya diserahkan kepada aparat penegak hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain pembenahan internal, Kristomei juga berencana memeriksa kembali data kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menggunakan sistem SiPongi serta pemantauan satelit NASA.
Langkah tersebut dilakukan untuk memverifikasi luas wilayah terbakar dan melihat dampak kebakaran terhadap masyarakat.
Pergantian pimpinan BNPB berlangsung ketika Indonesia masih menghadapi persoalan karhutla dan dampak kabut asap di sejumlah wilayah.
Di tengah situasi tersebut, transparansi penggunaan anggaran kebencanaan dan efektivitas penanganan bencana menjadi perhatian penting.





