Pengamat Politik: Isu Bisnis PCR Adalah Upaya Black Campaign Lawan, Simak Disini

Pengamat Politik: Isu Bisnis PCR Adalah Upaya Black Campaign Lawan, Simak Disini

Foto
Ahmad Nizar Saputra

Bisnis Polymerase Chain Reaction (PCR) yang dituduhkan kepada Menteri BUMN Erick Thohir adalah fitnah yang keji. Menurut pengamat politik Ahmad Nizar Saputra rumor tersebut disebut sebagai black campaign dari lawan yang ingin menyudutkan Erick Thohir.

Baca juga: Erick Thohir Apresiasi Blok Rokan, Berhasil Sumbang Rp 2,7 Triliun untuk Negara

Mengarah Pada Pembunuhan Karakter


Pengamat politik Ahmad Nizar Saputra yang juga Ketua Umum HIMA Persis menyatakan bahwa fitnah bisnis PCR yang ditujukan pada Menteri BUMN Erick Thohir sangat keji. Bahkan menurutnya fitnah tersebut sengaja dibuat untuk agenda pembunuhan karakter.

"Bahkan ini bisa lebih kepada pembunuhan karakter terhadap beliau," kata Direktur Jaringan Muda Cendekia Indonesia yang juga mantan Ketua Umum HIMA Persis, Ahmad Nizar Saputra, Sabtu 6 November 2021.

Cek Faktanya


Masyarakat yang cerdas pastinya akan melihat dulu pada fakta yang ada. Nyatanya Erick Thohir sudah sama sekali tidak terlibat aktif dalam perusahaan yang dikaitkan dengan bisnis PCR, Yayasan Adaro Bangun negeri. Perlu diketahui bahwa kepemilikan saham Erick Thohir di PT GSI sangat minim, hanya 6%.  

"Sehingga, sangat minim untuk dikatakan bermain bisnis-keuntungan di tes PCR. Berbeda Kalau kepemilikan sahamnya lebih dari 35%, pasti akan sangat kentara peranannya," ungkap Nizar, yang juga Sekjen Solidaritas Ulama Muda untuk Jokowi.

Baca juga: GP Ansor: Apresiasi, Gerak Cepat Menteri Erick Thohir Atasi Covid-19

Apresiasi Kerja Erick Thohir


Maka dari itu, menurut Nizar tuduhan atas Erick Thohir terkait bisnis PCR adalah argumen yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Menurutnya Erick Thohir telah banyak melakukan upaya pemulihan kesehatan dan ekonomi dari pandemi covid-19.

"Seperti misalnya memastikan ketersediaan vaksin Covid-19, obat-obatan bagi para pasien Covid 19, dan masih banyak lagi. Jadi ini ada upaya membunuh karakter Erick, apalagi ini jelang 2024," jelas Nizar.