Awal Mula Mahasiswa UNRI Alami Pelecehan Seksual dari Dekan FISIP saat Bimbingan Skripsi

Awal Mula Mahasiswa UNRI Alami Pelecehan Seksual dari Dekan FISIP saat Bimbingan Skripsi

Foto
Ilustrasi Pelecehan Seksual (foto: Shutterstock)

Sebuah video memperlihatkan seorang mahasiswa UNRI mengaku mendapat pelecehan seksual dari dekan FISIP saat bimbingan skripsi viral di media sosial. Hingga saat ini, banyak publik penasaran dengan awal mula terjadinya pelecehan itu.

Untuk menjawab rasa penasaran publik, kali ini Correcto.id akan menyajikan awal mula terjadinya pelecehan seksual yang dilakukan dekan FISIP UNRI itu terhadap mahasiswanya. Langsung saja, berikut ulasannya:

Baca Juga: Ini video Pengakuan Korban Pelecehan Seksual UNRI, Mengaku Dicium Paksa hingga Difitnah

Berawal dari Hendak Bimbingan Skripsi


Mengutip dari video yang beredar, mahasiswa itu mengaku terjadinya pelecehan seksual tepat pada Rabu, 27 Oktober 2021. Dimana pada saat itu dirinya menemui dekannya untuk melakukan bimbingan proposal skripsi.

Mahasiswa itu mengatakan,  saat itu awalnya dekan FISIP UNRI tersebut sempat menanyakan beberapa pertanyaan yang menjorok ke kehidupan sehari-hari dirinya.

Namun, tidak lama setelah itu dekan FISIP UNRI diduga mengatakan ucapan yang membuat mahasiswi itu merasa tidak nyaman.

"Ia mengatakan kata-kata i love you yang membuat saya merasa terkejut," kata mahasiswi itu.

Tidak hanya itu,  mahasiswi yang diduga korban pelecehan seksual tersebut juga mengungkapkan sejumlah tindakan tidak senonoh yang dilakukan oleh dekan FISIP UNRI.

Mengaku Kening dan Pipinya Dicium


Mahasiswa itu mengaku tangannya dipegang erat oleh sang dosen. Tak lama, tubuhnya didekatkan, kepala dipegang dan dicium kening dan pipinya.

"Ketika saya ingin salim untuk berpamitan. Langsung beliau genggam bahu saya, mendekatkan badan ke diri saya dan menggenggam kepala saya dengan kedua tangannya dan mencium pipi sebelah kiri dan kening," tuturnya.

Karena menolak, mahasiswi itu kemudian diizinkan meninggalkan ruangan. Tanpa buang waktu, ia langsung keluar dari ruangan sang dosen dengan kondisi ketakutan.

"Saya langsung meninggalkan ruang dekan dan kampus dengan gemetar," katanya.

Mengaku Diintimidasi


Pasca kejadian, mahasiswa diduga korban pelecehan seksual itu  langsung menghubungi salah satu dosen hubungan internasional untuk mengungkap kasus tersebut. Dirinya meminta dosennya itu menemaninya menemui ketua jurusan untuk melaporkan kasus itu agar bisa mengganti pebimbing proposal.

Namun, ketika minta bertemu dengan ketua jurusan disuruh untuk bertemu dulu dengan dirinya sebelum menjumpai ketua jurusan. "Walaupun saya sudah sampai rumah ketua jurusan, ia menyuruh saya putar balik untuk menemui dirinya terlebih dahulu di sebuah kede kopi," katanya.

Pada saat itu, dosen tersebut melakukan penekanan-penekanan kepada korban agar tidak memberi tahu ketua jurusan tentang kasus tersebut. 

"Ia mengajak saya dengan kata-kata seperti 'jangan gara-gara kasus ini bapak Syafri bercerai dengan istrinya' dia juga menegaskan untuk menyuruh saya bersabar saja tanpa perlu mempermasalahkan kasus pelecehan seksual ini," tuturnya.

Korban mengatakan, dosen itu berusaha menghalang-halangi dirinya untuk mendapatkan keadilan atas kelakukan yang tidak pantas yang diberikan dekannya kepada dirinya.

"Lalu di hari itu juga, selepas sholat Jumat akhirnya kami bertemu didampingi oleh dosen yang berusaha mencegah saya tadi. Disana, ternyata yang awalnya saya kira bapak tersebut mendukung saya dan melindungi saya namun ternyata tidak," ucapnya.

"Didepan ketua jurusan dia mencoba menyalah-nyalahkan saya atas kecerobohan saya yang tidak menggunakan SK dan melakukan bimbingan proposal. Dia mementingkan SK ketimbang kasus pelecehan seksual yang dibuat bapak Syafri Harto kepada saya," tuturnya.

Korban juga mengaku, dosen itu berulang kali mencoba menjatuhkan dirinya bahkan mencoba menyalahkan dirinya di depan ketua jurusan.

"Bahkan ia sempat beberapa kali melakukan seolah-olah ia marah terhadap pernyatan-pernyataan saya," katanya.

"Saya merasa sangat tertekan dan sehingga saya merasa sangat diintimidasi oleh bapak tersebut. Dan ketika ketua jurusan menayakan tentang kasus ini, saya terpaksa mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak saya sebut karena saya telah diintimidasi dan ditekan oleh bapak tersebut untuk tidak spekup tentang ini. Bahkan belian juga mengatakan bahwa bapak Syafri Harto melakukan hal ini bukan karena kebiasaan tapi akibat khilaf saja," ucapnya lagi.

Mengaku Difitnah


Pasca itu, dekannya yang diduga melakukan pelecehan itu berusaha menghubungi korban. Ia selalu menggukana nomor baru untuk menghubunginya.

Merasa tidak jalan dengan korban, dekan itu pun menelfon orang tua korban dan mengatakan dirinya mencium karena menganggap sebagai anak. Namun, orang tuanya tidak terima atas pengakuan dekan itu.

Baca Juga: Ini Sosok Syafri Harto, Dekan FISIP UNRI Diduga Melakukan Pelecehan Seksual pada Mahasiswanya saat Bimbingan Skripsi

Mengaku Trauma


Akibat kejadian itu, korban  mengaku trauma atas kejadian pelecehan seksual yang menimpa dirinya.

"Saya mengalami trauma yang sangat berat akan perlakuan yang tidak pantas yang dilakukan pak Syafri Harto kepada saya," kata mahasiswi UNRI yang belum diketahui identitasnya.