Meski zaman telah berubah, namun penggemar wayang hingga kini tidak pudar. Bahkan ada juga ingin mengenal tokoh-tokoh wayang. Seperti tokoh wayang bernama Werkudra misalnya, hingga saat ini masih banyak ingin mengenal tokoh wayang itu.
Nah, kali ini kita akan membahas sosok tokoh wayang Werkudara agar mengenalnya lebih jauh. Langsung saja, simak berikut ini:
Baca Juga: Sudah Tahu? Ini Jenis-jenis Wayang yang Populer di Indonesia
Werkudara atau Werkodara merupakan salah satu tokoh wayang anggota dari pandawa 5. Tokoh wayang yang memiliki nama kecil Bima ini anak kedua dari perkawinan Prabu Pandu dan Dewi Kunti.
Dalam bahasa Sangsakerta, nama Bima memiliki arti mengerikan. Sosok yang dikenal gemar makan ini merupakan seorang Pandawa yang kuat, memiliki lengan yang panjang, tubuh yang tinggi dan memiliki wajah paling gagah, dan sangar dibanding 4 pandawa lainnya.
Meski dikenal menyermakan ditambah membawa senjata bernama Gada, namun Werkudara memiliki hati yang baik tidak seperti kelihatannya. Sosoknya dikenal memiliki memiliki watak Jujur, tabah, patuh, setia, berani dan kuat.
Lahir dengan tak biasa
Kelahiran Werkudara juga terbilang menarik, ceritanya saat Prabu Pandu Dewanta menikah dengan Dewi Kunti, ia dikutuk oleh Resi Kindama. Isi kutukannya jika Prabu Pandu menjalankan tugasnya sebagai suami dan tidur seranjang dengan istrinya, maka saat itu ajalnya akan tiba.
Namun karena ia butuh keturunan untuk pewaris tahta, ia mengizinkan sang istri menerapkan Aji Adityaherdaya ajaran yang bisa memanggil dewa. Dewa pertama yang dipanggil adalah Batara Darma dan sembilan bulan kemudian, Kunti melahirkan seorang putra yang diberi nama Puntadewa.
Atas izin Pandu, Kunti memangil Batara Banyu, dewa penguasa angin. Ia kemudian hamil dan melahirkan Bima. Bima pun sering disebut Bayuputra, Bayusiwi, Bayusuta, atau Bayutanaya. Walaupun tak pernah berhubungan fisik, tubuh Batara Bayu dan Werkdara memiliki kemiripan. Saat lahir, ia terbungkus kulit yang tebal. Berbagai cara dilakukan untuk membuka lapisan yang membungkus Werkudara. Termasuk dengan senjata tajam.
Melihat keadaan tersebut, sang ayah berdoa kepada sang dewa dan Batara Guru mengutus Batara Narada untuk menolongnya. Atas petunjuk Narada, seeokar gajah bernama Sena diminta memecahkan lapisan yang membungkus bayu Werkudara. Batara Banyu kemudian merasuk ke tubuh Gajah Sena dan menginjak Bayi Bima yang terbungkus kulit tebal dan ditendang hingga kulitnya robek.
Begitu keluar dari pembungkusnya, bayi Bima langsung menyerang Gajah Sena dan sekali pukul, Gajah Sena mati. Setelah itu jasad Sena menyatu dalam diri Bima. Werkudara berperawakan tinggi, besar, gagah, berkumis dan berjenggot. Ia memiliki kuku panjang dan kuat yang menjadi senjata alamiahnya. Kuku itu disebut kuku Pancanaka.
Baca Juga: Arti Sebenarnya Mimpi Melihat Pentas Wayang Kulit di Malam Hari Menurut Primbon Jawa
Berpakaian yang khas
Pakaiannya juga khas yakni berkain poleng bang bintulu lima warna yang terdiri dari warna putih, hitam, kuning, merah, dan hijau. Kepada siapa pun, Werkudara tidak pernah memakai bahasa krama inggil atau bahasa halus. Ia selalu berbicara dengan bahasa ngoko, atau bahasa lugas sederajat, bahkan kepada para dewa. Ia hanya menggunakan bahasa halus kepada Dewa Ruci.
Di kalangan penggemar wayang, Werkudara dianggap mewakili karakter seseorang yang jujur, lugas, tidak pandang bulu, ulet, tidak pernah putus asa, spontan, dan tak pernah menghindari tantanyang.
Namun ia dikenal sebagai kesatria yang tegas kepada musuhnya yang jahat seperti pada Dursasana dan Patih Snegkuni. Khusus dalam pewayangan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, nama Bratasenna, Wijasena, atau Haryasena lebih sering digunakan untuk menyebut Bima ketika masih remaja. Sedangkan nama Werkudara digunakan menyebut Bima saat ia dewasa.
Baca Juga: 10 Tokoh Pewayangan Lengkap Dengan Sifatnya yang Paling Sering Dibawakan Dalang
Mengiringi Pemakaman Ki Manteb Soedharsono
Seperti yang kita ketahui, Wayang Werkudara pernah mengiringi pemakaman Ki Manteb Soedharsono yang meninggal pada Jumat (2/7/2021) lalu.
Anak pertama Ki Manteb Soedharsono, Medhot Soedarsono, menjelaskan, keberadaan wayang itu jelang pemakaman merupakan wasiat ayahnya sebelum berpulang.
Medhot sendiri tidak tahu alasan wayang Werkudara menjadi spesial bagi mendiang ayahnya. "Mungkin ada keterikatan sendiri sama bapak," sebut Medhot.