Wayang adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan ini juga populer di beberapa daerah seperti Sumatra dan Semenanjung Malaya juga memiliki beberapa budaya wayang yang terpengaruh oleh kebudayaan Jawa dan Hindu.
Namun sudahkah Anda tahu bahwa wayang juga terbagi menjadi beberapa jenis lho. Berikut jenis-jenis wayang dilansir dari berbagai sumber:
Baca Juga: 4 Jenis Masker yang Cocok Digunakan di Saat Pandemi Menurut dr. Erlina
1. Wayang Golek
Wayang Golek (foto: Indonesia.biz.id)
Wayang golek adalah salah satu dari jenis-jenis wayang yang terbuat dari bahan kayu yang merupakan hasil perkembangan wayang kulit dari keterbatasan waktu supaya dapat ditampilkan pada siang atau malam hari.
Pertunjukan ini dilakukan menggunakan wayang tiga dimensi yang terbuat dari kayu. Jenis-jenis wayang ini populer di Jawa Barat. Ada 2 macam wayang golek, yaitu wayang golek papak cepak dan wayang golek purwa.
Wayang golek yang banyak dikenal orang adalah wayang golek purwa. Kisah-kisah yang digunakan sering mengacu pada tradisi Jawa dan Islam, seperti kisah Pangeran Panji, Darmawulan, dan Amir Hamzah, pamannya Nabi Muhammad a.s.
2. Wayang Kulit
Wayang Kulit (foto: Wikipedia)
Wayang kulit sangat populer dan sering ditampilkan terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Wayang ini berbentuk pipih dan terbuat dari kulit kerbau atau kambing. Lengan dan kakinya bisa digerakkan. Di Bali dan Jawa, pertunjukan wayang kulit sering kali menggabungkan cerita-cerita Hindu dengan Budha dan Islam. Selain kisah-kisah religius, cerita-cerita rakyat serta mitos sering digunakan.
Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir.
Untuk dapat memahami cerita wayang (lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar. Secara umum wayang mengambil cerita dari naskah Mahabharata dan Ramayana, tetapi tak dibatasi hanya dengan pakem (standard) tersebut, dalang bisa juga memainkan lakon carangan (gubahan).
Baca Juga: 5 Pohon Natal Unik yang Pernah Ada, Sudah Pernah Lihat?
3. Wayang Suket
Wayang Suket (foto: goodnewsfromindonesia)
Wayang suket merupakan jenis-jenis wayang yang tidak kalah terkenal. Walaupun bentuknya sederhana dan biasanya hanya digunakan sebagai alat permainan atau penyampaian cerita perwayangan pada anak-anak di desa-desa Jawa.
Wayang suket ini terbuat dari rumput yang dililikan sedemikian rupa, sehingga terbentuk menjadi mirip tokoh wayang kulit. Untuk membuatnya, beberapa helai daun rerumputan dijalin lalu dirangkai (dengan melipat) membentuk figur serupa wayang kulit. Karena bahannya rumput, wayang suket ini biasanya tidak bertahan lama.
4. Wayang Orang atau Wayang Wong
Wayang Orang atau Wayang Wong (foto: pelajaran)
Jenis-jenis wayang ini adalah sebuah drama tari yang menggunakan manusia untuk memerankan tokoh-tokoh yang didasarkan pada kisah-kisah wayang tradisional. Pertunjukan wayang wong dipentaskan langsung oleh orang atau manusia dengan busana seperti wayang.
Cerita yang sering digunakan adalah Smaradahana. Awalnya, wayang wong dipertunjukkan sebagai hiburan para bangsawan, namun kini menyebar menjadi bentuk kesenian populer. Dalam pertunjukan Wayang Orang, fungsi dalang yang merupakan sutradara tidak seluas seperti Wayang Kulit, dalang hanya bertindak sebagai perpindahan adegan.
Baca Juga: Jenis-jenis Tie Dye yang Banyak Disukai Kalangan Masyarakat Saat ini
5. Wayang Beber
Wayang Beber (foto: Wikipedia)
Jenis-jenis wayang selanjutnya adalah Wayang Beber. Wayang beber adalah wayang berbentuk lembaran-lembaran (beberan) yang terbuat dari kain atau kulit lembu, dan dibentuk menjadi tokoh-tokoh wayang.
Tiap beberan merupakan satu adegan cerita. Jika tidak dimainkan, wayang bisa digulung. Wayang ini dibuat pada zaman kerajaan Majapahit. Namun, konon para Wali Songo memodifikasi wayang ini yang digunakan untuk menyebarkan agama islam dengan diubah menjadi wayang kulit, hal ini dikarenakan dalam ajaran islam mengharamkan bentuk gambar dan patung.