Viral Surat Pengakuan Korban Pelecehan Seksual di KPI Beredar di Medsos, Alat Vital Dicoret Spidol

Viral Surat Pengakuan Korban Pelecehan Seksual di KPI Beredar di Medsos, Alat Vital Dicoret Spidol

Foto
Korban Pelecehan Seksual di KPI Pusat (Foto: Illustrasi/Pixabay)

Media sosial dihebohkan oleh pengakuan korban pelecehan seksual yang terjadi di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). 

Hal itu dibagikan oleh akun Twitter @mediteraniaq. Hingga kini surat pengakuan tersebut sudah diretweets sebanyak 19,9 ribu kali oleh pengguna Twitter.

"Trigger Warning! Bejatnya kelakuan ASN di @kpipusat. Tolong cari nama-nama pelakunya spill di komen ya. Kita kasih paham," keterangan dalam unggahan foto oleh akun @mediteraniaq. 

Baca Juga: Tak Hanya Pelecehan Seksual, Korban Juga Dipukul, Dimaki hingga Dibully Sejak 2011 di KPI Pusat

Dalam surat berjudul "Pelecehan Seksual Beramai-Ramai di KPI Pusat, Pelaku-Korban Sama Sama Pria", korban pelecehan seksual mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo.

"Tolong Pak Jokowi, Saya Tak Kuat Dirundung dan Dilecehkan di KPI, Saya Trauma Buah Zakar Dicoret Spidol oleh Mereka," ungkap korban berinisial MS. 

MS mengatakan bahwa dirinya hanya ingin mencari nafkah di KPI dan bekerja dengan benar menerima tugas dari pimpinan untuk keluarganya di rumah. 

Pria berinisial MS itu juga mengaku sejak tahun 2012-2014 dia sering dibully, dipaksa untuk membeli makan bagi rekan kerjanya yang sudah senior. 

Baca Juga: Terungkap Sosok Korban Pelecehan Seksual di KPI Berinisial MS, Sempat Mengadu ke Hotman Paris dan Deddy Corbuzier

Ia mengaku bahwa para senior rekan kerjanya bekerjasama untuk mengintimidasinya, padahal dalam pekerjaan kedudukan mereka sama. Tapi, dirinya dibuat layaknya budak yang selalu ditindas.

"Mereka bersama-sama mengintimidasi yang membuat saya tak berdaya. Padahal kedudukan kami setara dan bukan tugas saya untuk melayani rekan kerja. Tapi mereka secara bersama-sama merendahkan dan menindas saya layaknya budah pesuruh," lanjut MS. 

Bahkan sejak bekerja di KPI Pusat, MS mengaku bahwa mereka sering melecehkan, memukul hingga memukul dirinya.