Tak Hanya Pelecehan Seksual, Korban Juga Dipukul, Dimaki hingga Dibully Sejak 2011 di KPI Pusat

Tak Hanya Pelecehan Seksual, Korban Juga Dipukul, Dimaki hingga Dibully Sejak 2011 di KPI Pusat

Foto
Korban Pelecehan Seksual di KPI Pusat (Foto: Illustrasi/Pixabay)

Pelecehan seksual yang terjadi di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI Pusat) tengah ramai diperbincangkan setelah korban membuat pengakuan. 

Pengakuan korban pelecehan seksual tersebut dibagikan lewat akun Twitter @mediteraniaq yang saat ini sudah diretweets sebanyak 19,9 ribu kali oleh pengguna Twitter.

Lewat surat dengan judul "Pelecehan Seksual Beramai-Ramai di KPI Pusat, Pelaku-Korban Sama Sama Pria" tersebut korban mengaku dilecehkan hingga dipukul.

Baca Juga: Viral Surat Pengakuan Korban Pelecehan Seksual di KPI Beredar di Medsos, Alat Vital Dicoret Spidol 

Korban yang merupakan seorang pria berinisial MS mengungkapkan sejak tahun 2011 bekerja di KPI Pusat, dirinya kerap dilecehkan, dipukul hingga dimaki oleh rekan kerja senior.


"Sejak awal saya kerja di KPI Pusat pada 2011, sudah tak terhitung berapa kali mereka melecehkan, memukul, memaki dan merundung tanpa bisa saya lawan," ungkap korban dalam surat tersebut. 

Namun dirinya hanya bisa diam tanpa bisa melawan karena hanya sendiri dan pelaku yang menindasnya banyak. 


"Saya sendiri dan mereka banyak. Perendahan martabat saya dilakukan terus menerus dan berulang-ulang sehingga saya tertekan dan hancur pelan-pelan," lanjut MS. 

Baca Juga: Terungkap Sosok Korban Pelecehan Seksual di KPI Berinisial MS, Sempat Mengadu ke Hotman Paris dan Deddy Corbuzier

Kemudian pada tahun 2015, MS mengungkapkan bahwa dirinya dipegang, ditelanjangi, dipiting dan melecehkan dirinya dengan mencoret alat vitalnya menggunakan spidol. 

"Tahun 2015, mereka beramai-ramai memegangi kepada, tangan, kaki, menelanjangi, memiting, melecehkan saya dengan Mencorat Coret Buah Zakar Saya Memakai Spidol," tegas MS, korban pelecehan seksual di KPI Pusat. 

Setelah itu, pelaku pelecehan seksual pun mendokumentasikan alat vital korban sehingga membuat dirinya tak bisa melawan. Ia berharap agar fotonya tidak disebar dan diperjualbelikan di situs online. 

Karena kejadian itu, MS mengaku trauma dan kehilangan kestabilan emosi, stres. Tapi ia harus bertahan demi mencari nafkah untuk keluarga.