Ketua Umum PB HMI Raihan Ariatama bocorkan alasan milenial mudah terjatuh ke faham Islam yang radikal. Menurutnya kalangan milenial memang menjadi target perekrutan kelompok terorisme di Indonesia.
Raihan Ariatama yang merupakan seorang aktivis Islam kalangan milenial mengungkapkan fakta yang mengejutkan soal maraknya pelaku teror dari kalangan Gen Z hingga milenial. Menurutnya kalangan milenial Indonesia adalah kelompok labil yang belum punya pendirian.
"Memang struktur mentalitas dari kalangan milenial ini kan labil," ungkap Ketua Umum PB HMI Raihan Ariatama saat berbincang dengan correcto.id Kamis 1 April 2021 secara daring.
Baca juga: Wapres Ma'ruf Amin Sebut Pendakwah Sebagai Penyebab Utama Negara Muslim Jadi Tertinggal
Raihan menganalisa bahwa pada usia belasan hingga 20-an tahun merupakan fase pencarian jati diri. Sebab itu menurutnya pada masa usia tersebut apa yang dibaca, dipelajari, dan dialami akan sangat mempengaruhi sikap dan pikirannya.
"Anak-anak usia 16 sampai 22 tahun itu memang sedang mencari jati diri. Jadi ketika mereka dalam proses itu nilai-nilai apa, pengetahuan apa, atau pengalaman apa yang banyak masuk ke alam pikiran mereka, maka itulah yang akan kemudian menciptakan jati diri mereka seperti apa," tambah Raihan.
Selain faktor tersebut di atas, raihan juga melihat memang ada faktor eksternal atau pengaruh luar yang dengan sengaja menyebarkan faham Islam yang radikal kepada kelompok milenial.
"Selama ini kan memang ada satu kelompok kecil saya rasa untuk menyebarkan isu-isu itu dan mempengaruhi banyak pikiran, konstruksi berpikir milenial agar lebih radikal tersebut,"jelas Ketum PB HMI tersebut.
Raihan merasa bahwa masuknya kelompok-kelompok tersebut juga tidak terlepas dari keteledoran para organisasi kemahasiswaan berbasis Islam yang tidak membendung gerakan tersebut.
"Saya rasa itu juga keteledoran kita sebagai organisasi muslim karena tidak pernah memproduksi wacana Islam yang moderat untuk membangun karakter milenial kita," Jelasnya.
Baca juga: Fakta-fakta Fenomena Alam Awan Payudara di Sinjai
"Karena memang untuk milenial ini mentalitasnya masih labil, sehingga cara untuk menyelamatkan mereka harus disuguhkan dengan nilai-nilai dan pengetahuan-pengetahuan yang betul-betul menjaga keutuhan NKRI ini," jelas Raihan.
Sebagai langkah nyata membendung gerakan dan penyebaran faham Islam radikal tersebut maka perlu kepedulian setiap orang dan kelompok untuk bersama-sama mengkampanyekan corak Islam moderat. Sebuah Islam yang ramah sejuk dan mempersatukan.
"Memang tugas berat kita di level mahasiswa untuk mengkampanyekan itu (Islam Moderat) secara aktif dan masif," pungkasnya.