Sosok Komika Abdur Arsyad tengah jadi sorotan publik belakangan. dalam sebuah video yang viral di media sosial dirinya ungkapkan kritik perbedaan pemerintah dulu dan sekarang.
“Dulu saya berani berkomentar karena Presidennya SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), militer tapi slow, ini ada katanya slow tapi rasanya otoriter, saya bisa apa? bisa mati!” ujar Abdur dalam video tersebut.
Dirinya angkat bicara pasca disinggung sejumlah warganet yang cenderung bungkam atas peristiwa dan isu yang berkembangan di Indonesia belakangan ini. Dirinya mengungkapkan, tidak ada yang perlu diharapkan darinya dan menyarankan untuk ikuti apa kata pakar.
Baca juga: Napi Narkoba Cai Changpan Ditemukan Gantung Diri di Gudang Pembakaran Ban
“Pakar-pakar kan sudah ngasi pandangan, bantahan, ikuti dan pelajari. Apalagi yang kalian harapkan dari saya? Saya bisa bicara apa? Omongan saya tidak akan lebih baik atau lebih lebih jelas daripada mereka.” kata Abdur.
Abdur berusaha menjelaskan kepada publik tentang posisi dan sikapnya atas isu yang berkembang. Dirinya menerangkan bahwa bersikap tidak harus terlihat, namun tetap tahu persis apa yang dilakukan.
“Kita ini seperti gerak jalan, yang pimpin kita itu aktivis, para pakar dengan kiri-kiri kanan kiri. Ada yang mengikuti dengan bersuara, ada yang mengikuti dalam diam tapi kita semua satu barisan. Bagus!” lanjutnya.
Abdur berpesan agar masyarakat harus pintar dalam mengemukakan kritik di zaman sekarang ini. Menurutnya jangan sampai jada warga yang tidak bermanfaat bahkan jadi korban adu domba pihak-pihak yang sengaja menciptakan hal tersebut.
“Kalian-kalian ini itu yang jadi taik kucing dijalan, merusak barisan. Soo, yang kita lawan ini pintar, pintar adu domba. Jadi jangan mau jadi domba. Harus ada yang jadi macan, ayam, komodo, cendrawasih, ketupat apa saja terserah. Yang penting buat mereka bingung, sehingga mereka mau adu domba, dombanya tidak ada.” pungkas Abdur lagi.
Baca juga: Fakta-fakta Penyebab China Minta Pemulangan Pasien Sembuh Ditinjau Ulang
Abdur mengungkapkan bahwa aksi demo belakangan yang terjadi tidak perlu dipikir pusing, jika Anda setuju maka suport dan doa dengan donasi, suport dari dekat maupun jauh. Namun menurutnya yang terpenting adalah jangan mudah lupa akan hal-hal lebih subtansial dalam perjuangan yakni menegakkan kebenaran dan keadilan.
“Yang turun kejalan kita doakan, bantu dengan open donasi kalo ada. Baik mereka yang berdarah-darah dijalan maupun kita yang support dari kejauhan, itu sama-sama satu barisan perjuangan. Perjuangan saja tanpa logo-logo hewan. Kita ini, orang Indonesia ini ya mudah terpancing dan gampang lupa.” kata Abdur berharap.
“Sekarang heboh, semua heboh. Tapi nanti 2024 lupa! Mereka lagi yang menang. Bodoh, bodoh, bodoh sekali! Follow orang yang konsisten untuk berbicara tentang pelanggaran-pelanggaran negara biar kita tidak lupa, biar kita tidak mudah terpancing waktu mereka pecah isu vokalis nyapres atau kata anjay atau apalah itu,” tutup Abdur.