Seseorang yang mengalami gangguan pendengaran di antaranya akan mengalami kesulitan dalam mendengar pembicaraan, sehingga terjadi gangguan komunikasi yang dapat berdampak negatif terhadap pekerjaan, pendidikan, dan hubungan sosial.
Pembagian jenis gangguan pendengaran tersebut berdasarkan perbedaan penyebabnya. Berikut ini beberapa jenis gangguan pendengaran dan cara mengatasinya yang dapat dipahami:
1. Gangguan pendengaran konduktif
Gangguan pendengaran konduktif terjadi ketika suara tidak dapat ditransmisikan dengan baik karena adanya gangguan pada telinga luar atau tengah.
Gangguan pendengaran konduktif dapat diobati secara medis. Beberapa contoh penyebab gangguan pendengaran konduktif, yakni:
Baca Juga: Pertama di Dunia, Rusia Klaim 'Sputnik V' Vaksin COVID-19, Ampuhkah?
1. Kotoran telinga yang berlebihan menghalangi saluran telinga
2. Kelainan bentuk telinga atau bagian telinga di luar kanal
3. Infeksi serta cairan di telinga tengah
2. Gangguan pendengaran sensorineural
Gangguan pendengaran sensorineural memengaruhi koklea, organ pendengaran dalam telinga bagian dalam, atau saraf di luar telinga bagian dalam.
Terdapat banyak penyebab gangguan pendengaran sensorineural, seperti:
1. Proses penuaan
2. Genetika
3. Terlalu lama terkena suara keras
4. Pengaruh atau efek samping obat-obatan tertentu
3. Gangguan pendengaran campuran
Gangguan pendengaran campuran adalah kombinasi dari gangguan pendengaran sensorineural dan konduktif. Kondisi ini diakibatkan dari masalah kedua bagian telinga, baik bagian dalam, luar atau tengah.
Baca Juga: Pengguna Vape dan Perokok Lebih Rentan Tertular Covid-19, Benarkah?
Pilihan pengobatan untuk mengatasi gangguan pendengaran campuran, antara lain yakni: 1. Obat-obatan
2. Operasi
3. Alat bantu dengar
4. Implan pendengaran telinga tengah (Vibrant Sound Bridge) atau implant hantaran tulang (Bone Bridge)
4. Ganguan pendengaran syaraf
Gangguan pendengaran saraf biasanya mendalam dan permanen. Alat bantu dengar dan implan koklea tidak dapat membantu karena saraf tidak dapat menyampaikan informasi suara ke otak.
Dalam banyak kasus, implan batang otak (ABI) mungkin dapat menjadi pilihan terapi mengatasi gangguan pendengaran saraf.
Sumber: Kompas, CNN, Detik