Cerita Mahasiswa Indonesia yang Hanya Berjarak 4 Kilometer dari Lokasi Ledakan Dahsyat Beirut

Cerita Mahasiswa Indonesia yang Hanya Berjarak 4 Kilometer dari Lokasi Ledakan Dahsyat Beirut

Ahmad
2020-08-05 16:17:44
Cerita Mahasiswa Indonesia yang Hanya Berjarak 4 Kilometer dari Lokasi Ledakan Dahsyat Beirut
Foto: AFP

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Lebanon mencatat setidaknya ada 65 mahasiswa Indonesia yang berada di Lebanon dalam kondisi aman pasca ledakan dahsyat di Pelabuhan Beirut, Selasa 4 Agustus 2020.

Lebih lanjut, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Lebanon Hamzah Assuudy Lubis melaporkan 65 mahasiswa itu masih aman dan tersebar di enam kampus: Daawa, Global, Tripoli, Jinan, Darul Fatwa Akkar, dan Darul Fatwa Beka.

"Alhamdulillah aman semua, tidak ada yang luka, semua aman," kata Hamzah dilansir dari Suara, Rabu 5 Agustus 2020.

Baca Juga: Kondisi Beirut Usai Ledakan, Dubes RI untuk Lebanon: Ledakan Diakibatkan 2.750 ton Amonium Nitrat

Meski begitu, dia menyebut terjadi sedikit kerusakan ringan di Sekretariat PPI Lebanon di sebuah apartemen daerah Barbir, Beirut yang berjarak kurang lebih 4 kilometer dari titik ledakan.

"Kerusakannya biasa saja, seperti kaca pecah kena angin ledakan itu, ada beberapa perabotan pecah, kemudian ada beberapa dinding yang retak juga dan juga memang karena ada angin itu," ungkapnya.

Hamzah bercerita pada saat kejadian dirinya tengah berada di apartemen itu yang terletak di lantai 5, terasa seperti diguncang gempa bumi.

"Kami kan tinggal di apartemen 5 lantai, ya terasa goyang, itu yang mungkin menyebabkan dinding retak dan sebagainya. Alhamdulillah masih layak tinggal, yang parah itu yang radiusnya 1-3 kilometer," jelasnya.

Baca Juga: Perkembangan Ledakan Beirut, Palang Merah Lebanon: Korban Tewas Bertambah Jadi 100 Orang

Kejadian ini terjadi di saat para mahasiswa tengah menjalani libur musim panas sehingga tidak terlalu mengganggu kegiatan belajar mengajar di kampus, kelas musim panas pun tetap digelar online karena pandemi Covid-19.

Terkait kebutuhan logistik menghadapi masa darurat 14 hari yang ditetapkan pemerintah setempat, menurut Hamzah masih bisa terjamin sebab bantuan covid-19 dari KBRI Beirut juga sudah sampai ke mahasiswa sebelum ledakan.

Sebelumnya, Ledakan besar mengguncang Beirut, Lebanon, pada Selasa 5 Agustus 2020. Ledakan itu memicu terjadinya gelombang seismik setara gempa berkekuatan 3,3 magnitudo. 

Palang Merah Libanon melaporkan hingga kini korban tewas akibat ledakan besar di Ibu Kota Beirut pada Selasa 4 Agustus 2020 petang telah mencapai lebih dari 100 orang.

Organisasi itu juga menuturkan lebih dari 4.000 orang terluka akibat ledakan yang berasal sebuah gudang di dekat pelabuhan Beirut dan berisi 2.700 ton amonium nitrat tersebut.

"Sampai saat ini lebih dari 4.000 orang terluka dan lebih dari 100 orang kehilangan nyawa. Tim kami masih melakukan operasi pencarian dan penyelamatan di daerah sekitar ledakan," bunyi pernyataan Palang Merah Libanon seperti dilansir AFP pada Rabu 5 Agustus 2020.

Ledakan tersebut terjadi sekitar Selasa petang pukul 18.02 waktu setempat.

Area ledakan itu sendiri hanya berjarak 7 km dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Saksi mata menyebut ledakan tiba-tiba itu bak datangnya hari kiamat.  

Presiden Lebanon Michel Aoun mengatakan temuan sementara ledakan disebabkan oleh 2.750 ton amonium nitrat yang ditimbun selama enam tahun di gudang pelabuhan.





Sumber: Suara, Detik, Kumparan


Share :