Artis dan Bisnis Prostitusi: Perkawinan Antara Tuntutan Gaya Hidup dan Imajinasi Seksual

Artis dan Bisnis Prostitusi: Perkawinan Antara Tuntutan Gaya Hidup dan Imajinasi Seksual

Dedi Sutiadi
2020-07-14 23:00:00
Artis dan Bisnis Prostitusi: Perkawinan Antara Tuntutan Gaya Hidup dan Imajinasi Seksual
Ilustrasi prostitusi. (Foto: Istimewa)

Artis kok jadi "pelacur"? Mungkin pertanyaan itu yang pertama kali muncul saat mendengar kabar seorang artis terlibat dalam bisnis prostitusi. Normatifnya, artis dikenal sebagai sosok yang mapan, hidup berkecukupan, dan berpenghasilan tinggi, namun kenyataannya ada beberapa yang masih belum merasa cukup, kok bisa? Apakah penghasilannya sebagai artis kecil? Atau memang ada tuntutan lain, semisal gaya hidup yang mendorongnya masuk pusaran bisnis lendir tersebut? Pastinya pertanyaan itu yang bergentayangan di alam pikir masyarakat. 

Ada hal yang menggiurkan di bisnis ini, sehingga sejumlah artis rela terjerumus ke dalamnya. Profil sebagai artis; cantik, mulus, dan terkenal nyatanya jadi modal yang dapat dikonversi untuk mendapatkan pundi rupiah dalam jumlah banyak dan cepat dengan jalan pintas sebagai "pelacur". Hal ini rela dilakukan demi memenuhi tuntutan gaya hidup atau alsan kuat lainnya. 

Baca juga: Artis FTV Hana Hanifah Alias HH Ditangkap Polisi, Diduga Terlibat Kasus Prostitusi, Juga Diketahui Suka Nembak Berkali-kali

Berkencan dengan artis tentu menjadi tawaran menarik bagi mereka pria hidung belang yang liar imajinasi seksualitasnya. Tidak peduli harga tinggi, demi sensasi seks bersama artis mereka rela merogoh kocek dalam-dalam. Rela mengeluarkan uang puluhan bahkan ratusan juta demi kepuasan imajinasi seksualitas.    

Tutututan Gaya Hidup dan Pilihan Menjadi "Pelacur" 

Artis yang masuk pusaran bisnis prostitusi dinilai banyak pengamat sebab tuntutan gaya hidup yang glamour atau hedonisme. Penulis Buku" Jakarta Undercover, Moammar Emka menerangkan bahwa pilihan artis yang menjadi "pelacur" adalah bukan untuk memenuhi kebutuhan pokok tapi tuntutan gaya hidup. "Kalau di perkotaan, ada dua sisi. Bahwa ekonomi tadinya awalnya, tapi ekonomi yang tidak untuk memenuhi kebutuhan pokok, tapi untuk memenuhi gaya hidup," Senin 13 Juli 2020. 

Setidaknya ada empat alasan mengapa "menjadi pelacur" adalah pilihan yang dianggap tepat bagi para artis yang mau tidak mau, harus memperjuangakan gaya hidup hedonisme tersebut, walau sejatinya pilihan ini bukanlah satu-satunya jalan. Pilihan ini dianggap sebagai jalan yang sangat menggiurkan sebab dalam waktu singkat bisa mendapat uang yang melimpah, berkali lipat dibanding pendapatan dari honor sebagai seorang artis. 

Baca juga: Sosok Diduga Pemesan Jasa Prostitusi Artis FTV Hana Hanifah di Medan, Polisi: Berusia 35 Tahun

Empat alasan mengapa mencari uang tambahan adalah sebuah tuntutan untuk beberapa kalangan artis; pertama, mahalnya biaya perawatan. Tampil cantik, mulus, bersih, dan menarik adalah sebuah keharusan bagi artis agar bisa tetap eksis di kancah dunia hiburan. Hal tersebut tentu tidak cukup dengan modal perawatan biasa, dibutuhkan alat kecantikan dan berbagai perawatan diri yang luar biasa. Tentunya hal tersebut membutuhkan biaya yang cukup mahal.

Kedua, gengsi dan pergaulan di kalangan artis. Tidak mudah survive di antara hingar bingar dunia keartisan, terutama kalau tidak bisa mempertahankan gaya hidup layaknya seorang artis. Ya, bukan Cuma karya, tapi gaya hidup yang berkaitan dengan gengsi dan pergaulan. Misalnya punya mobil mewah, tas branded, eksistensi di kalangan artis senior dan sejenisnya. 

Ketiga, honor kecil tapi harus tetap "ngartis". Perkembangan zaman yang mebuat semakin mudahnya masuk dunia hiburan ternyata telah menicptakan persaiangan ketat diantara artis. Tak heran jika bagi mereka pendatang baru di awal karirnya masih berpengahsilan kecil. Atau bagi mereka yang sudah lama masuk namun mulai tergeser artis baru membuat dirinya jadi sepi job. Namun disisi lain, pribadinya telah terlanjur terkenal sebagai artis dan merasa harus tetap bergaya "ngartis". 

Kempat, cara Instant menaikan populeritas.Ternyata jalur prostitusi juga menjadi jalan instant bagi artis pendatang baru untuk menjadi terkenal. Cara ini dinilai cukup efektif untuk menaikan pamor keartisan dengan jalur cepat. Menurut beberapa informasi yang dikumpulkan, motivasi pertama jelas uang. Namun selain itu, juga bisa memberikan peluang lain bagi model dan pendatang baru untuk lebih populer. Misalnya mendapat tawaran tampil dan sejenisnya yang lebih mudah menggunakan ‘pelicin’ lewat jalur ini.

Baca juga: Hana Hanifah Tersandung Kasus Dugaan Prostitusi, Manajer: Saya Dengernya Kaget, Padahal Dia Suka Solat

Artis dan Imajinasi Seksualitas

Itulah beberapa alasan yang dirasa menjadi faktor pendorong masuknya beberapa artis ke bisnis prostitusi. Pamor sebagai artis, cantik, mulus dan menarik menjadi modal yang dapat dikonversi untuk mendapat uang dalam jumlah besar secara instant dengan menjadi "pelacur". Hal ini kemudian ditangkap sebagai peluang bisnis oleh mereka yang berperan sebagai mucikari. Menjadi sebuah "barang jajakan" untuk ditawarkan pada mereka para lelaki hidung belang berakantong tebal untuk memuaskan imajinasi seksnya.

Pamor sebagai artis tentunya membuat harga jual tak sama dengan wanita biasa. Tak heran jika tarif sekali kencan begitu mahal bahkan terkecil dimulai dari pulhan sampai ratusan juta. Tentu bagi masyarakat awam hal tersebut tak wajar jika hanya untuk memenuhi kebutuhan seks saja. Memang, jika menggunakan logika umum, harga yang dipasang artis tersebut tentu tak masuk akal. Banyak yang beranggapan, kalau hanya untuk melakukan hubungan seksual, masih ada perempuan lain yang berprofesi itu, yang memasang tarif lebih murah. Apalagi, kalau cuma ingin melampiaskan hajatan seksual (orgasme).

Lalu, mengapa ada pria yang bersedia membayar mahal untuk sekadar mengencani artis? Ini soal imajinasi. Artis adalah profesi “spesial”. Ia bukan perempuan biasa. Sehingga, ia tidak bisa disamakan dengan perempuan pada umumnya, yang juga sama-sama berprofesi pelacur. Tarif sekali kencan artis yang tergolong mahal, disebabkan oleh adanya semacam imajinasi yang coba dihadirkan “klien” terhadap artis. Misalnya, artis itu cantik, berpenampilan menarik, wangi, berpendidikan, dan terkenal.

Baca juga: Begini Kondisi Hana Hanifah, Usai Digeruduk Polisi Tak Berbusana di Hotel

Sehingga, tarif yang dibanderol oleh artis dianggap sesuatu yang wajar. Logika ini bisa dianalogikan seperti membeli mobil mewah seharga miliaran rupiah, sedangkan fungsi mobil pada umumnya sama. Dalam kaitan ini, harga sesungguhnya tidak menjadi persoalan, dan tak bisa dijadikan tolok ukur. Ini masalah kepuasan batin semata.

Kebanayakan artis Indonesia yang masuk dalam bisnis prostitusi adalah mereka yang disebut sebagai selebriti kurang terkenal (sekuter). Lagi, alasannya adalah tuntutan ekonomi untuk membiayai gaya hidup yang hedon. Adapun menurut Emka, artis yang terlibat dalam bisnis tersebut ada dua tipe; bekerja secara mandiri. Menghubungi pelanggannya sendiri, namun pada umumnya adalah tipe kedua, bernaung di bawah satu manajemen. "Soal jaringan, sebenarnya dia menjadi jaringan ketika ada yang koordinasi kan di bawah germo.Kebanyakan yang terjadi di kalangan prostitusi 'sekuter' ini ada yang memang yang beberapa mengelompokkan diri di bawah 'manajemen' papi atau mami," ungkap Emka.

Secara pendapatan, bagi mereka yang bernauang di bawah manajemen papi atau mami tentu harus berbagai, ada  presentasi untuk manajemen. Namun bagi mereka yang lebih memilih berjalan sendiri tanpa naungan mananejemen tentu akan mendapatkannya secara penuh. Menurut Emka bagi mereka yang memilih manidiri, akan menawarkan dirinya langsung secara one woman show. "Praktis dia menjual dirinya sendiri ke mana-mana. Ada istilah yang paling populer itu adalah bagaimana kemudian para yang one man show ini kebanyakan kemudian dia melakukan namanya window shoping ke beberapa wilayah-wilayah yang menjadi tempat berkumpulnya para pria-pria yang memang berduit," jelasnya.

Baca juga: Ini Fakta Terkini Terkait Penangkapan Hana Hanifah Diduga Prostitusi Artis

Untuk melengkalpi tulisan ini, berikut penulis rangkumkan sederet artis Indonesia yang masuk dalam pusaran bisnis prostitusi. 

Hana Hanifah

Artis FTV, Hana Hanifah diamankan polisi bersama seorang pria berinisial A di sebuah hotel di Medan pada Minggu 12 Juli 2020 malam. Dari hasil pemeriksaan, Hana diketahui dibayar dengan tarif Rp20 juta oleh seorang pengusaha berinisial A.

Baca juga: Tarif Hana Hanifah Rp 20 Juta Semalam? Di Booking oleh Pengusaha Medan

Vanessa Angel

Polda Jawa Timur pada awal Januari 2019 mengungkap kasus prostitusi online yang melibatkan artis beranam Vanessa Angel. Vanessa Angel ditangkap di sebuah hotel di Surabaya dan kemudian ditetapkan sebagai tersangka. Kabar beredar dalam kasus tersebut tarif sekali kencan bersama Vanessa Angel sebesar Rp. 80 juta.

Avriellia Saqilla

Seorang artis yang juga terjerat bisnis prostitusi online adalah Avriellia Saqilla. Artis yang dikenal sebagai model ini ditangkap bersamaan dengan  kasus prostitusi daring yang melibatkan Vanessa Angel.

Hesti ‘Klepek-klepek’

Penyanyi dangdut Hesty 'Klepek-Klepek' juga sempat terjaring razia prostitusi artis. Dia ditangkap pada, 19 Februari 2016, di suatu hotel berbintang di Bandar Lampung. AKBP Ferdian Indra Fahmi yang menjabat sebagai Kasubdit IV Polda Lampung saat itu mengatakan Hesty ditangkap bersama lima orang mucikari dan delapan korban.

Baca juga: Hana Hanifah Hubungi Mucikari Sendiri, Lagi Sepi Job?

Amel Alvi

Amel Alvi sempat ditangkap karena kasus prostitusi pada Mei 2015 silam. Sang mucikari, Robby Abbas dalam persidangan menyebut tarif Amel sekali kencan sebesar Rp80 juta.

Nikita Mirzani

Pada tahun 2015 silam, Bareskrim Polri mengamankan Nikita Mirzani atas dugaan kasus prostitusi. Nikita Mirzani diamankan dari sebuah hotel bintang lima di kawasan Jakarta Pusat. Ada pun tarif yang dipasangnya saat itu sekitar Rp65 juta.

Itulah sederet artis yang pernah terjerat kasus bisnis prostitusi. Tentunya deretan artis tersebut hanyalah segelintir yang mencuat ke publik dan berhasil diungkap polisi. Jika merujuk pendapat Emka, bisnis prostitusi yang melibatkan artis jumlahnya tidak cukup hanya dengan itungan jari."jumlahnya lagi-lagi saya harus dibilang ini enggak sedikit, artinya pasti nanti kalau mau diteliti lebih jauh deretannya bakal lebih panjang. Karena memang tidak hanya satu, dua, tiga, atau belasan, tetapi juga ratusan orang-orang yang kemudian menceplungkan diri di bisnis ini," kata Moammar Emka.

Pada akhirnya kita memahami bahawa artis juga manusia. Ia butuh makan, minum dan memenuhi kebutuhan hidup. Namun disinilah masalahnya, gaya hidup yang terlanjur dijalani terlampau glamour hingga dirinya terperangkap dalam pusaran tersebut. Artis yang terlihat mapan dan berkecukupan nyatanya tidak bisa terlepas dari bisnis lendiri ini. Cara ini dipilih sebab tuntutan gaya hidup, mudah dan instan dalam mendapatkan banyak uang adalah alasan penguatnya. Namun demikian tidak bisa kita mengaggap semua artis demikian, karena faktanya banyak juga artis yang sukses, kaya raya, harta melimpah sebab usaha dan kerja keras yang memang dibangunnya dari nol. 

Baca juga: Hana Hanifah Dipulangkan Karena Tak Terbukti Terlibat Kasus Prostitusi, Manajer: Hana Hanya Sebagai Saksi

Bisnis ini membeberkan fakta bahwa prostitusi bisa melibatkan siapa saja, sekalipun itu adalah artis yang dianggap tinggi penghasilannya. Artis yang memilih jalan instan ini pun ibarat termuluskan jalannya lewat para perantara yang berperan sabagai mucikari yang menghubungkan pada pembelinya. Ibarat berjualan, ada penjual, di situ ada pembeli. Barangkali, adagium ini tepat untuk menggambarkan relasi seksual antara artis dengan “klien”.

Daya "magis" artis yang membuat para lelakai hidung belang rela mengeluaran uang pulahan bahkan ratusan juta demi sensasi seksual. Meski tarif sekali kencan cukup tinggi, bahkan tak masuk akal tetap saja ada lelaki yang bersedia memakai jasa mereka. Mengapa? Ketenaran dan segala atribut yang melekat pada diri seorang artis, menjadi daya imajinasi tersendiri bagi lelaki yang akan menikmati tubuh artis.



Share :