Ibarat air susu dibalas air tuba, seorang anak di Nusa Tenggara Barat (NTB) tega polisikan ibu kandung hanya gara-gara warisan. Pria berinisial MS (45) hingga tega melaporkan ibu kandungnya, KS (61), dengan dugaan tuduhan penggelapan sepeda motor.
Polisi pun turun tangan untuk memediasa keduanya. Menurut keterangan dari Kabid Humas Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) Kombes Artanto menerangkan kejadian tersebut berawal saat MS melaporkan ibunya ke polisi pada Sabtu 27 Juni 2020. Saat itu, Ibu kandung dan saudara MS juga ikut ke kantor polisi.
"Sama-sama (ke kantor polisi), ibu, anak, saudaranya. Intinya si anak laporkan ibu kandung karena menguasai motor, motornya siapa yang kurang memahami," ungkap Artanto saat dihubungi, Senin 29 Juni 2020.
Setelah diselidiki, polisi akhirnya mengetahui bahwa sepeda motor yang dipersengketakan merupakan hasil dari uang warisan. Dalam kesempatan terpisah, Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah AKP Priyo Suhartono lalu menjelaskan duduk perkaranya hingga akhirnya laporan MS ditolak polisi.
"Berawal dari harta warisan, waktu bapaknya meninggal mereka ini punyalah tanah. Tanah ini dijual sama si anak ini Rp 200 juta. kemudian dari Rp 200 juta itu, si ibunya ini hanya dibelikan motor sama si anak hasil penjualan warisan tanah," kata AKP Priyo Suhartono saat dihubungi, Senin 29 Juni 2020.
Dari Rp 200 juta uang penjualan tanah warisan itu, si anak memberikan ibunya Rp 15 juta. Rinciannya, Rp 11 juta dalam bentuk sepeda motor dan sisanya uang. Namun BPKB tetap dipegang si anak.
Priyo menjelaskan, MS tak senang motor itu dipinjamkan dan dipakai ramai-ramai sama saudara-saudara. Si anak keberatan dan ingin mengambil motor itu dari sang ibu.
Baca juga: Seram! Ini Kisah Mistis di Tikungan Benda Bantar Gebang Bekasi yang Sering Kejadian Aneh
"Merasa kesal motornya dipakai ramai-ramai. Kemudian si anak ini minta lagi motornya, 'Bu kembalikan motor saya', nah si ibu ini nggak mau, 'kan motor itu sudah jadi milik saya' katanya hasil warisan. (Kata anak) Nggak bisa, ini tetap punya saya kan ini ada BPKB-nya di saya' tetap kekeuh bersikeras," ujarnya.
Buntu, tidak ada jalan keluar dan saling penegertian. Akhirnya polisimemanggil keduanya untuk mediasi. "Tapi saya memandangnya secara hati nurani saja ya, ibaratnya sebenarnya bukan menolak ya, saya kemarin itu secara spontanitas saja masak sih tega ibu sendiri," ujarnya.
"Kemarin itu langsung kita panggil kan, anak sama ibunya ini. Tadinya cuma mau mediasi aja, tapi anaknya makin ngotot, makin berantem sama ibunya, cekcok mulut lah," imbuhnya.