Pada masa lalu, masih banyak misteri yang belum bisa dipecahkan oleh manusia zaman modern. Satu di antaranya adalah manusia raksasa. Ada banyak cerita tentang raksasa yang ada dalam berbagai legenda. Sejak abad ke-20, ada sejumlah temuan yang tampak menunjukkan kebenaran tentang adanya manusia raksasa di masa lalu.
Dimana pada zaman purba, konon tinggallah manusia-manusia raksasa yang mendiami Pulau Jawa. Mereka memiliki tinggi sekitar 2,5 meter, bertubuh tegap, dan punya otot yang kuat. Para manusia raksasa itu dinamakan Meganthropus Paleojavanicus.
Fosil manusia purba itu pertama kali ditemukan oleh G.H.R von Koeningswald dalam sebuah penelitian yang Ia lakukan pada tahun 1936 hingga 1941 di Situs Sangiran, Sragen. Di sana Ia menemukan dua bagian dari kepala manusia purba itu, yaitu bagian rahang atas dan bagian rahang bawah.
Baca Juga : Seram! Inilah Kisah Mangai Binu, Tradisi Memburu Kepala oleh Suku Nias Tempo Dulu
Diyakini, Meganthropus Paleojavanicus merupakan fosil manusia bertubuh besar tertua di Pulau Jawa. Mereka diperkirakan hidup sekitar 1-2 juta tahun yang lalu pada masa Paleolithikum atau zaman batu tua.
1. Arti Nama Meganthropus Paleojavanicus
Nama Meganthropus Paleojavanicus terdiri dari kata Mega yang berarti besar, Anthropus yang berarti manusia, Paleo berarti tua dan Javanicus berarti Jawa. Kalau digabungkan, nama itu memiliki arti manusia bertubuh besar paling tua di pulau Jawa.
Walaupun ditemukan di tempat yang sama yaitu di Situs Sangiran, Meganthropus Paleojavanicus memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan Pithecanthropus Erectus terutama pada tinggi badannya.
2. Sejarah Penemuan Fosil Meganthropus Paleojavanicus
Fosil Meganthropus Paleojavanicus pertama kali ditemukan oleh G.H.R von Koeningswald di Sangiran, Sragen, Jawa Tengah pada tahun 1936. Ia melakukan sebuah ekspedisi dengan menyisir lembah Sungai Bengawan Solo. Pada suatu tempat, Ia menemukan fosil manusia purba berupa bagian tempurung tengkorak dan rahang.
Baca Juga : Ngeri! Begini Kisah Misterius Batu Atola di Nias Selatan yang Disebut Bisa Berjalan Sendiri
Setelah temuan itu, banyak ilmuwan yang kemudian melakukan penelitian terhadap temuan von Koeningswald. Dari penelitian itu diketahui bahwa fosil itu telah berumur 1 hingga 2 juta tahun yang lalu.
3. Ciri-ciri Meganthropus Paleojavanicus
Meganthropus Paleojavanicus memiliki ciri yaitu badannya yang kekar dan tegap. Selain itu, manusia purba itu memiliki rahang yang besar dan geraham yang bentuknya sama seperti manusia zaman sekarang. Walau begitu, mereka tidak memiliki dagu seperti layaknya kera.
Terdapat tonjolan pada bagian belakang kepala dan keningnya. Tulang pipinya juga terlihat lebih tebal. Para ilmuwan memperkirakan Meganthropus Paleojavanicus merupakan makhluk vegetarian yang makanan pokoknya adalah tumbuh-tumbuhan.
4. Cara Hidup Meganthropus Paleojavanicus
Meganthropus Paleojavanicus bertahan hidup dengan mengandalkan hasil alam. Oleh karena itu, ketika hasil alam yang menjadi sumber makanannya habis di suatu tempat, Ia akan berpindah ke tempat lain yang sumber alamnya masih melimpah.
Untuk mengolah sumber makanan itu, manusia purba itu menggunakan peralatan masak yang masih sangat kasar. Hal ini dikarenakan peralatan masak mereka dibuat dengan cara membenturkan batu dengan yang lain.
Baca Juga : Ini Cerita Mistis Tentang Gunung Sibayak yang Dikaitkan dengan Hilangnya Sejumlah Wisatawan
Pecahan batu yang telah dibenturkan itu kemudian membentuk sebuah alat menyerupai kapak. Alat itulah yang kemudian digunakan Meganthropus Paleojavanicus untuk memasak dan mengumpulkan makanan.
5. Penelitian Lebih Lanjut Terhadap Fosil Meganthropus Paleojavanicus
Pada tahun 1942, von Koeningswald ditangkap oleh penjajah Jepang. Oleh karena itu, penelitian terhadap fosil manusia purba itu diteruskan oleh seorang ilmuwan bernama Franz Weidenreich.
Dari penelitian yang dilakukannya, Ia menemukan bentuk rahang manusia purba itu sama dengan rahang Gorila, namun memiliki ukuran yang lebih besar. Penemuan fosil serupa terus dilakukan pada waktu-waktu berikutnya. Beberapa peneliti seperti Marks, Sartono, Tyler, dan Krantz terus menemukan fosil-fosil serupa, terutama di situs Sangiran dan sekitarnya.