Tafsir Ibnu Abbas Ra tentang Lailatul Qadar

Tafsir Ibnu Abbas Ra tentang Lailatul Qadar

Dedi Sutiadi
2020-05-18 05:30:00
Tafsir Ibnu Abbas Ra tentang Lailatul Qadar
Ilustrasi malam Lailatul Qadar. (Foto: Istimewa)

Tentang malam lailatul qadar Allah SWT kisahkan dalam al-Quran, lebih tepatnya pada Q.S. al-Qadr [97]. Surah ini terdiri dari lima ayat pendek yang secara khusus membahas keutamaan dan apa yang terjadi saat lailatul qadr tiba. 

Menurut pandangan Ibnu Abbas Ra dalam menafsirkan Q.S. al-Qadr [97] ada isyarat kapan terjadinya malam lailatul wadar pada surat tersebut. Isyarat tersebut menurutnya ada pada kata ganti “hiya” yang terdapat pada ayat terakhir. Ia melihat sesuatu yang beda dari kata tersebut. Sejak ayat pertama, Allah swt memakai kata dzahir “lailatul qadr”. Hal yang sama juga terdapat pada ayat kedua dan ketiga. Namun mengapa pada ayat terakhir Allah swt memakai kata ganti “hiya” yang merujuk pada kata “lailatul qadr”? Mengapa Allah swt tidak memakai kata jelas “lailatul qadr” saja pada ayat tersebut? Atau jika memakai kata ganti (dhamir) “hiya”, mengapa tidak dimulai sejak ayat kedua?

Dalam pandangan Ibnu Abbas Ra Ada rahasia jumlah huruf dari penggunaan kata “lailatul qadr” ataupun hitungan kata dari Q.S. al-Qadr [97] secara keseluruhan.

Pertama, dari segi huruf, kata laylatu al-Qadr terdiri dari sembilan huruf, yaitu lam, ya’, lam, ta’, alif, lam, qaf, dal, dan ra’. Oleh karena kata tersebut diulang sebanyak tiga kali, maka jumlah keseluruhan dari kata itu adalah 27 huruf. Dari sini, maka disimpulkan bahwa lailatul qadr jatuh pada tanggal 27 Ramadhan.

Kedua, dari segi kata, dipahami bahwa jika dihitung secara tajwidi , maka dalam Q.S. al-Qadr [97] terdapat 30 kata. Hitungan tajwidi dipahami sebagai cara menghitung kata dalam al-Qur’an dengan patokan boleh-tidaknya diputus atau waqf (berhenti). Sebagai contoh, kata أنزلناه dihitung sebagai satu kata menurut hitungan tajwidi, sebab ia tidak boleh diputus hanya sampai أنزلنا.

Dengan patokan hitungan tajwidi, diperoleh hasil bahwa Q.S. al-Qadr [97] terdiri dari 30 kata dengan rincian ayat (1) sebanyak 5 kata; (2) sebanyak 6 kata; (3) sebanyak 6 kata; (4) sebanyak 8 kata; dan (5) sebanyak 5 kata. Dari 30 kata tersebut terdapat kata “hiya” yang berarti “ia”. Kata itu jatuh pada hitungan ke-27 dan merupakan kata ganti (dhamir) yang rujuknya kembali ke kata “lailatul qadr”. Dari sini disimpulkan bahwa lailatul qadr jatuh pada malam 27 Ramadhan. Penjelasan tentang tafsir isyari Ibnu Abbas Ra ini dapat dibaca dalam kitab Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalayn.

Dengan demikian, tradisi “pitulikuran” yang diyakini oleh sebagian masyarakat muslim Jawa sebagai malam terjadinya lailatul qadr memiliki dasar yang bahkan bersumber dari seorang sahabat bernama Ibnu Abbas Ra. 

Dengan demikian, keyakinan terkait datangnya lailatul qadr pada malam 27 Ramadhan ini didukung oleh dua dasar: 1) dalil hadis tentang perintah mencari lailatul qadr pada salah malam ganjil 10 hari terakhir Ramadhan, dan 2) dalil tentang terjadinya malam tersebut pada malam 27 Ramadan yang bersumber dari Ibnu Abbas Ra. Wallahu a’lam.


Share :