Riset Ungkap Fenomena “AI Brain Fry”, Pekerja Bisa Alami Kelelahan Mental

Riset Ungkap Fenomena “AI Brain Fry”, Pekerja Bisa Alami Kelelahan Mental

Dimarirenal
2026-05-07 23:35:00
Riset Ungkap Fenomena “AI Brain Fry”, Pekerja Bisa Alami Kelelahan Mental
Sumber Foto : Istimewa

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang semakin masif di dunia kerja ternyata tidak selalu berdampak positif.


Sebuah riset terbaru menunjukkan bahwa pemakaian AI secara berlebihan justru dapat meningkatkan risiko stres dan kelelahan mental pada pekerja.


Studi yang dipublikasikan oleh Harvard Business Review mengungkap fenomena baru yang disebut “AI brain fry”.


Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang mengalami kelelahan kognitif akibat terlalu sering berinteraksi dengan AI hingga melampaui batas kemampuan otak manusia.


Sebelumnya, HBR juga memperkenalkan istilah “AI slop” atau “workslop”, yang merujuk pada menumpuknya konten kerja berkualitas rendah akibat penggunaan AI yang tidak terkontrol, sehingga justru mengganggu alur pekerjaan.


Dalam riset terbarunya bertajuk When Using AI Leads to “Brain Fry”, peneliti melakukan survei terhadap sekitar 1.500 pekerja penuh waktu di Amerika Serikat.


Hasilnya, sebagian responden mengaku mengalami kelelahan mental, kesulitan berkonsentrasi, hingga melambatnya proses pengambilan keputusan setelah menggunakan AI secara intens.


Sekitar 14 persen peserta survei bahkan mengaku pernah merasakan kondisi yang disebut “brain fry”.


Fenomena ini paling banyak terjadi pada pekerja di bidang pemasaran, pengembangan perangkat lunak, sumber daya manusia, keuangan, dan teknologi informasi.


Julie Bedard yang terlibat dalam penelitian tersebut menilai temuan ini sebagai peringatan awal bagi perusahaan.


Menurutnya, meskipun AI menawarkan peningkatan produktivitas, manusia tetap memiliki batas kemampuan yang tidak berubah.


Menariknya, penelitian ini juga menemukan adanya efek dua sisi dari penggunaan AI. Di satu sisi, AI dapat membantu mengurangi beban kerja dan menurunkan tingkat stres ketika digunakan untuk tugas-tugas rutin.


Namun di sisi lain, penggunaan banyak alat AI secara bersamaan justru dapat meningkatkan tekanan mental.


Banyak pekerja mengaku harus terus berpindah antar aplikasi, menunggu hasil AI, dan memeriksa ulang output yang dihasilkan.


Hal ini membuat mereka merasa seperti memiliki “kabut mental” atau beban pikiran yang menumpuk.


Dalam beberapa kasus, pekerja bahkan merasa lebih sibuk mengelola berbagai tools AI dibanding fokus menyelesaikan pekerjaan utama mereka.


Para peneliti menekankan bahwa solusi dari masalah ini bukan dengan menghentikan penggunaan AI, melainkan mengatur ulang cara kerja agar lebih efektif.


Pelatihan yang tepat serta strategi penggunaan AI yang terarah dinilai penting untuk mencegah dampak kelelahan mental di lingkungan kerja modern.


Share :