Kemunculan istilah Kiswah Kabah dalam dokumen yang disebut sebagai Epstein Files memicu perhatian luas, terutama di kalangan publik Muslim. Isu ini mencuat setelah adanya dugaan pengiriman tiga potong kain yang disebut-sebut berkaitan dengan kiswah, kain penutup Kabah yang memiliki makna sakral. Informasi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai konteks, tujuan, serta keabsahan klaim yang beredar.
Dalam penelusuran dokumen yang beredar, penyebutan kiswah muncul dalam konteks korespondensi dan catatan logistik, bukan sebagai bagian dari praktik keagamaan. Sejumlah pihak menilai istilah tersebut belum tentu merujuk pada kiswah Kabah yang asli, melainkan bisa menjadi sebutan tidak resmi atau istilah simbolik yang digunakan dalam komunikasi internal. Hal ini membuka kemungkinan terjadinya salah tafsir terhadap informasi yang belum diverifikasi secara menyeluruh.
Dugaan pengiriman tiga potong kain suci juga dinilai masih memerlukan klarifikasi lebih lanjut. Kiswah Kabah memiliki pengelolaan dan distribusi yang ketat serta berada di bawah otoritas resmi. Oleh karena itu, klaim mengenai peredarannya di luar jalur resmi dipandang sebagai isu serius yang tidak bisa disimpulkan hanya berdasarkan potongan dokumen atau pernyataan sepihak.
Para pengamat mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi isu ini, mengingat sensitivitas simbol keagamaan yang terlibat. Mengaitkan kiswah dengan kasus Epstein yang sarat kontroversi berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan keresahan publik jika tidak disertai penjelasan yang proporsional dan berbasis fakta yang jelas.
Hingga saat ini, penyebutan Kiswah Kabah dalam Epstein Files masih berada pada ranah dugaan dan interpretasi. Publik diharapkan tidak terburu-buru menarik kesimpulan, serta menunggu penjelasan resmi dan informasi yang lebih utuh. Kasus ini kembali menegaskan pentingnya memilah informasi secara kritis, terutama ketika menyangkut simbol sakral dan isu sensitif lintas budaya.






