Wacana gentengisasi yang disampaikan Prabowo memunculkan diskusi publik mengenai pilihan material atap rumah yang selama ini digunakan masyarakat. Program ini dipandang sebagai upaya meningkatkan kualitas hunian sekaligus mengurangi dampak panas berlebih di permukiman padat. Namun, gagasan tersebut juga memicu perdebatan terkait efektivitas dan kesiapan implementasinya di berbagai daerah.
Sejumlah ahli menilai genteng memiliki keunggulan dalam menahan panas dibandingkan seng. Material genteng dinilai lebih mampu menjaga suhu ruang tetap stabil, sehingga kenyamanan penghuni rumah bisa meningkat. Selain itu, genteng dianggap lebih awet dan minim kebisingan saat hujan, meski membutuhkan struktur rangka atap yang lebih kuat.
Di sisi lain, penggunaan seng masih memiliki kelebihan tersendiri, terutama dari segi biaya dan kemudahan pemasangan. Seng lebih ringan dan proses instalasinya relatif cepat, sehingga kerap menjadi pilihan di wilayah dengan keterbatasan anggaran. Namun, seng dikenal menghantarkan panas dan suara hujan lebih kuat, yang berpotensi mengurangi kenyamanan jangka panjang.
Ahli juga mengingatkan bahwa penerapan gentengisasi perlu mempertimbangkan kondisi geografis dan sosial ekonomi masyarakat. Tidak semua wilayah cocok menggunakan genteng, terutama daerah rawan gempa atau wilayah terpencil dengan akses material terbatas. Tanpa kajian menyeluruh, program ini berisiko tidak tepat sasaran.
Secara keseluruhan, wacana gentengisasi Prabowo dinilai membuka ruang evaluasi terhadap kualitas hunian rakyat. Para pakar menekankan pentingnya pendekatan fleksibel, dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan setiap material atap. Dengan perencanaan matang, kebijakan ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.






