Mengal Dewi Anjani, Tokoh Wayang Jawa Sangat Cantik Bak Bidadari

Mengal Dewi Anjani, Tokoh Wayang Jawa Sangat Cantik Bak Bidadari

Foto
Wayang Dewi Anjani (foto: Pitoyo)

Mengenali setiap tokoh wayang Jawa merupakan salah satu hal yang menarik. Pasalnya, setiap kisah tokoh-tokoh wayang Jawa itu memiliki makna yang dapat dipetik untuk jadi pembelajaran. 

Pada kesempatan ini kita akan membahas salah satu tokoh wayang Jawa bernama Dewi Anjani. Bagi kamu yang ingin mengenali tokoh wayang ini, langsung saja simak berikut ini:

Baca Juga: Mengenal Dewi Sri, Tokoh Wayang Jawa Berparas Cantik dan Berwatak Murah Hati hingga Bijaksana

Silsilah Dewi Anjani


Dalam pewayangan, Dewi Anjani disebut anak sulung dari pasangan Resi Gotama dan bidadari Dewi Indradi keturunan Bahara Asmara. Dewi Anjani memiliki dua adik bernama Guwarsi dan Guwarsa

Disebut juga, Dewi Anjani disebut istri dari raja kera bernama Ramona. Dewi Anjani dan Ramona juga disebut telah memiliki anak bernama Hanoman.

Diceritakan, Dewi Anjani disebut reinkarnasi bidadari bernama Punjikastala. Sebelum memiliki putra, ia melakukan tapa untuk mendapatkan keturunan. Atas saran dari Resi Matangga yang merupakan seorang pemuja Wisnu, ia bertapa di Wenkatacala.

Setelah bertapa selama ribuan tahun, Dewa Bayu menampakkan wujudnya dan berkata bahwa ia akan menjadi putra Anjana. Kekuatan rohani sang dewa pun merasuki janin Anjani sehingga lahirlah seorang putra yang diberi nama Hanoman.

Baca Juga: Mengenal Bagong, Tokoh Wayang Jawa Suka Njambal Terhadap Orang Lebih Tua

Sifat dan Wujud Dewi Anjani


Dikisahkan, Dewi Anjani digambarkan berparas sangat cantik bak bidadari, tidak serakah dan baik hati. Disebut juga, Dewi Anjani sempat menjadi wanita berwajah kera akibat peristiwa Cupumanik Astagina.

Namun, wujudnya yang mirip kera itu hilang dan kembali terlihat cantik bak bida dari setelah para dewa mengampuni kesalahannya.

Baca Juga: Mengenal Petruk, Tokoh Wayang Jawa Jago Kandang Namun Mudah Berlapang Dada

Kisah Dewi Anjani


Pada suatu hari, Dewi Anjani memergoki ibunya sedang bermain-main dengan Cupumanik Astagina, yakni sebuah alat yang berkhasiat untuk melihat menikmati keindahan alam dunia.

Dewi Anjani menyaksikan, betapa ibunya asyik dengan Cupu Manik Astagina, yang dikiranya alat permainan itu. Waktu Anjani meminta mainan itu, ibunya terpaksa memberikannya karena takut putrinya itu akan mengadukan soal adanya Cupumanik Astagina pada Begawan Gotama, suaminya.

Dewi Indradi wanti-wanti berpesan agar Dewi Anjani menyembunyikan dan senantiasa merahasiakan alat permainan itu. Sayang, sang dewi malah memamerkan Cupumanik Astagina pada kedua saudaranya yakni Guwarsi dan Guwarsa. Mereka saling berebut hingga menimbulkan kegaduhan.

Begawan Gotamadri yang mengetahui sumber pertengkaran mereka kemudian membuang alat itu ke Telaga Samala.

Tidak mau kehilangan Cupumanik Astagina begitu saja, ketiga anaknya terjun ke telaga. Guwarsa dan Guwarsi menyelam dengan cepat, sementara Dewi Anjani mencuci mukanya lebih dulu di pinggir telaga.

Ketika kedua saudaranya muncul kembali ke permukaan, wajah dan tubuh mereka berubah menjadi kera. Sebaliknya, meski wajahnya berubah menjadi kera, badan Dewi Anjani masih berwujud manusia.

Dengan panik, mereka mendatangi sang ayah. Begawan Gotamadri lalu menyuruh ketiga anaknya bertapa memohon ampunan para dewa. Dewi Anjani memutuskan bertapa di Telaga Nirmala.

Dengan bertelanjang, dia bertapa di telaga hingga hanya kepalanya yang terlihat. Saat itulah Batara Guru melintas dan menyaksikannya. Berahinya yang bangkit membuat air maninya keluar dan menetes di setangkai daun asam muda.

Daun asam muda itu lantas tertiup angin dan jatuh ke telaga. Dewi Anjani memakannya dan hamil. Bingung lantaran belum bersuami, dia memohon keadilan pada para dewa.

Batara Guru menemuinya dan mengatakan dialah ayah dari janin yang dikandung Anjani. Saat melahirkan, bayinya berwujud kera. Dia diperbolehkan kembali ke kayangan dalam wujud aslinya bersama si anak yang bernama Anoman itu.