Wilayah utara Jakarta diprediksi akan tenggelam secara menyeluruh pada tahun 2050 jika tidak ada intervensi lebih lanjut dari pemerintah. Hal tersebut diungkapkan oleh fesor Riset bidang Meteorologi Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Eddy Hermawan.
Saat melakukan diskusi bersama BRIN dengan tema 'Prof Talk: Benarkah Jakarta dan Pantura Akan Tenggelam', Rabu (6/10/2021) disinggunglah hal yang menyebabkan Jakarta tenggelam dan solusinya.
Baca Juga: Ini 3 Penyebab NASA Sebut Jakarta Akan Tenggelam
Lokasi yang Akan Terendam
Dalam hal ini Eddy Hermawan mengatakan, bahwa ada beberapa lokasi yang berada di DKI Jakarta diprediksi akan terendam pada 2050. Namun, Jakarta tidak sepenuhnya tenggelam.
“Pada 2050 air laut memang belum menyentuh kawasan Monas. Jadi kalau dari pengaruh kenaikan muka air laut itu kecil tentunya,” kata Eddy.
Lebih lanjut dia mengatakan bahwa jika hanya melihat faktor kenaikan muka air laut, maka pada 2050 air laut memang masuk ke daratan tapi belum menyentuh kawasan Monas. Artinya air tidak menenggelamkan seluruh Jakarta.
Namun, menurut hasil proyeksi, dimana pada 2050 kenaikan muka air laut akan membanjiri daerah Jakarta seluas lebih kurang 160,4 kilometer persegi atau 24,3 persen dari luas total daerah itu. Maka, air laut akan masuk ke wilayah yakni Tanjung Priok, Pluit, Pademangan, Kapuk, dan Penjaringan.
Baca Juga: Awal Mula Jakarta Mau Tenggelam Hingga Warga DKI Dilarang Gunakan Air Tanah
Ada Faktor yang Berbahaya
Eddy mengungkapkan bahwa ada faktor lain yang cukup berbahaya yakni penurunan muka tanah, terutama di daerah yang bertanah lunak. Namum, tidak hanya di Jakarta, tapi di sepanjang Pantura. Itu akan meningkatkan risiko lebih banyak air laut yang masuk ke daratan.
“Kalau hanya basisnya kenaikan air muka laut, itu tidak terlalu berdampak serius,” ujarnya.
Meminta Semua Tidak Diam Saja
Kemudian, menurut Profesor Riset bidang Geoteknologi dan Hidrogeologi BRIN Robert Delinom mengatakan, bahwa potensi Jakarta tenggelam ada, namun tidak dalam waktu dekat.
“Jakarta dan Pantura bisa tenggelam, tapi tidak pada kurun waktu yang segera. Jadi mungkin lama nanti setelah berapa tahun. Kita lihat tadi dalam 30 tahun masih sampai 2 meter,” ujarnya.
Meski begitu, Robert meminta semua tidak bisa diam saja. Perlu upaya mitigasi dan adaptasi komprehensif dengan sinergi bersama, serta inovasi untuk mencegah penurunan muka tanah.