Sosok dan Fakta Fransisca Fanggidae, Srikandi Asal Rote Pemilik Peran Penting untuk Kemerdekaan RI

Sosok dan Fakta Fransisca Fanggidae, Srikandi Asal Rote Pemilik Peran Penting untuk Kemerdekaan RI

Foto
Fransisca Fanggidae yang merupakan srikandi asal Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). foto: Internet

Nama Fransisca Fanggidae yang merupakan srikandi asal Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT), meski tidak banyak yang mengenalnya ternyata mempunyai peran penting untuk kemerdekaan Indonesia. Berikut sosok dan fakta lengkapnya.

Srikandi asal Rote ini memang sangat jarang ditemui literatur hingga dimasukkan dalam berbagai buku pelajaran sejarah yang diajarkan oleh guru di sekolah.

Peran penting Fransisca Fanggidae

Perempuan yang lahir di Noelmina, Timor 16 Agustus 1925 rupanya mempunyai peran penting untuk kemerdekaan Republik Indonesia karena dibesarkan di Surabaya, Jawa Timur serta memiliki ayah seorang pegawai negeri (amtenaar) saat masa penjajahan Belanda.

Baca Juga:  Biografi dan Profil Lengkap Agama R.A Kartini, Pahlawan Nasional Diperingati Setiap Tanggal 21 April

Disindir "Belanda Hitam"

Diakibatkan mempunyai ayah seorang amtenaar Belanda, keluarga Fransisca Fanggidae disindir oleh berbagai pihak saat itu dengan sebutan "Belanda Hitam".

Punya jiwa antikolonialisme 

Meskipun berasal dari kalangan keluarga yang berada dengan dapat menempuh pendidikan yang sangat layak, Fransisca sapaan skrikandi asal Rote itu mempunyai jiwa antikolonialisme. Jiwa tersebut lahir saat, orang lain menundukkan kepala saat bertemu dengan keluarganya di Surabaya. Atas dasar itu, dirinya mempunyai peran sangat aktif pasca kemerdekaan.


Dikirim ke Yogyakarta

Tepat usainya ke-19, Fransisca Fanggidae muda dikirim ke Yogyakarta untuk terus berjuang meraih kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah.

Di Yogyakarta, perempuan kelahiran 16 Agustus 1925 ini menghadiri kongres pemuda dan melahirkan Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI) dan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo).

Baca Juga:  Daftar Pahlawan Indonesia yang Diabadikan Jadi Nama Jalan di Luar Negeri, Mulai Soekarno hingga R.A Kartini

Juli 1947, tepat usianya 22 tahun perempuan yang dijuluki 'Belanda Hitam' oleh berbagai kalangan saat itu, ditugaskan untuk menawarkan kemerdekaan Indonesia dalam sebuah festival pemuda yang pertama kali diselenggarakan di Praha, Cekoslowakia dan melanjutkan perjalanan ke India untuk menghadiri South East Asian Youth & Students Conference pada Februari 1948 dan berpidato tentang kemerdekaan Indonesia.


Dianggap pemberontak

Usai memutuskan untuk pindah ke Madiun, Jawa Timur, perempuan yang aktif di Pesindo itu bertugas sebagai penyiar radio berbahasa Inggris milik Belanda, hingga dianggap pemberontak dan ekstremis Belanda.

Bekerja di kantor berita Antara

Tepat usianya ke-32 Fransisca Fanggidae bekerja di kantor berita Antara pada 1957 dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi lainnya. Hingga pada 1964, srikandi asal Rote itu menjadi orang kepercayaan Presiden Soekarno sekaligus penasehat dalam Konferensi Asia-Afrika II di Aljazair.

Dihapus dari buku sejarah

Akibat dekat dengan Presiden Soekarno dan meletusnya G30S PKI 1965 serta stigma komunis yang melekat pada dirinya, membuat Fransisca Fanggidae tidak dapat pulang ke Indonesia saat berada di Chile sebagai wakil Indonesia dalam Kongres Wartawan Internasional.

Selain namanya dihapus dari sejarah, Fransisca Fanggidae juga harus menyembunyikan identitas dirinya selama 20 tahun saat tinggal di China dan pindah ke Belanda hingga meninggal dunia pada 1985.