Sosok Abdul Latief, Salah Satu Pemuda Pengibar Sang Saka Merah Putih Pada 17 Agustus 1945

Sosok Abdul Latief, Salah Satu Pemuda Pengibar Sang Saka Merah Putih Pada 17 Agustus 1945

Foto
Abdul Latief Hendraningrat (Sumber: Int).


Tradisi Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Hari Ulang Tahun Republik Indonesia selalu dilakukan setiap tahunnya di Istana Merdeka dengan khidmat. Puncak acaranya adalah pengibaran bendera pusaka Merah Putih oleh Kelompok Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka. Jika menilik sejarah pembentukan Paskibraka maka berkaitan erat dengan sejarah proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta.

Bendera Merah Putih yang pada akhir tahun 1944 dijahit sendiri oleh Istri Soekarno, Fatmawati, dikibarkan setelah pernyataan kemerdekaan Indonesia dibacakan Soekarno. Abdul Latief Hendraningrat, seorang anggota pasukan Pembela Tanah Air (PETA) bersama Soehoed, pemuda dari Barisan Pelopor ditunjuk sebagai pengibar bendera pusaka.

Latief Hendraningrat memiliki peran penting dalam sejarah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Bersama Suhud Sastro Kusumo dan SK Trimurti , ia adalah orang yang mengibarkan bendera Sang Saka Merah Putih dalam upacara proklamasi kemerdekaan RI pertama tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta.

Baca Juga: Fakta Puan Maharani Kenankan Baju Bundo Kanduang Saat Bacakan Teks Proklamasi di HUT RI, Berawal dari Kontroversi Pilkada 2020 hingga Banjir Pujian

Berikut Inilah Sosok Abdul Latief Hendraningrat.

Nama lengkapnya Raden Mas Abdul Latief Hendraningrat, lahir di Jakarta tanggal 15 Februari 1911. Kedua orang tua Latief, yakni Raden Mas Mochamad Said Hendraningrat dan Raden Ajeng Haerani, berasal dari keluarga ningrat Jawa. Ayah Latief adalah seorang demang atau wedana di wilayah Jatinegara.

Abdul Latief memiliki latar belakang pendidikan di sekolah tinggi hukum. Saat menjadi mahasiswa, ia sekaligus mengajar bahasa Inggris di beberapa sekolah menengah swasta, seperti yang dikelola Muhammadiyah dan Perguruan Rakyat.

Bahkan, Abdul Latief fasih berbicara dalam berbagai bahasa asing, seperti Inggris, Jerman, dan Prancis hingga Bahasa Belanda karena dia adalah lulusan AMS atau Algemeene Middlebare School.

Dimana, semasa penjajahan, dia mengajar di berbagai perguruan yang berorientasi pada pergerakan kemerdekaan. Pada masa pendudukan Jepang, ia giat dalam pusat latihan pemuda (Seinen Kunrenshoo) kemudian menjadi anggota pasukan Peta.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Jokowi Pakai Baju Adat Lampung saat Hadiri HUT Kemerdekaan RI ke-76

Prajurit PETA Pejuang Kemerdekaan RI

Ketika Peta resmi dibentuk pada 3 Oktober 1943, Abdul Latief langsung diangkat menjadi komandan kompi karena paling senior. Dia juga merupakan salah seorang pendiri Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Jakarta.

Setelah proklamasi, dia terlibat dalam berbagai pertempuran. Dia menjabat sebagai komando kota ketika Belanda menyerbu Yogyakarta pada 1948. Ketika berhasil keluar dari Yogyakarta yang sudah terkepung, ia melakukan geriliya. Setelah penyerahan kedaulatan, dia mula-mula ditugaskan di markas besar Angkatan Darat.


Menduduki Jabatan Penting

Dia pernah menduduki sejumlah jabatan penting seperti direktur Pusat Pendidikan Perwira TNI AD di Bandung, atase militer di Filipina, Washington DC (AS), Direktur SSKAD di Bandung, anggota DPR GR, dan sejumlah jabatan lainnya termasuk rektor IKIP Jakarta pada 1965-1966.

Baca Juga: Potret Jokowi dan Iriana Pakai Baju Adat Lampung Saat Hadiri HUT Kemerdekaan RI ke-76

Mengabdi Hingga Akhir Hayat

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia dari Belanda pada akhir 1949, Latief Hendraningrat terus menempuh jalan ketentaraan. Dimana, pada tahun 1952, ia ditunjuk sebagai atase militer di Kedutaan Indonesia untuk Filipina, kemudian dipindahkan ke Washington, Amerika Serikat, hingga 1956.

Pulang ke tanah air, Latief Hendraningrat dipercaya memimpin Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD). Sebelum pensiun dari militer, ia sempat menjabat sebagai rektor pertama IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta) pada 1964-1965.

Tahun 1967, seiring terjadi peralihan kekuasaan dari Orde Lama pimpinan Sukarno ke rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto, Latief Hendraningrat menyepi dari hiruk-pikuk politik. Latief Hendraningrat membaktikan diri untuk Yayasan Perguruan Rakyat dan Organisasi Indonesia Muda hingga akhir hayatnya. Latief Hendraningrat wafat di Jakarta tanggal 13 Maret 1983 dalam usia 72 tahun.