Mengenang 3 Puisi Terkenal Karya Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni Hingga yang Fana Adalah Waktu

Mengenang 3 Puisi Terkenal Karya Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni Hingga yang Fana Adalah Waktu

Yuli Nopiyanti
2021-06-02 20:05:03
Mengenang 3 Puisi Terkenal Karya Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni Hingga yang Fana Adalah Waktu
Sapardi Djoko Darmono (Foto:Dok.Instagram)

Hujan Bulan Juni menjadi puisi yang sangat melegenda dari Almarhum penyair Sapardi Djoko Darmono. Yang meninggal pada tanggal 19 Juli 2020 lalu.

Puisi ‘Hujan Bulan Juni’ mengandung makna yang begitu dalam. Mengajarkan manusia tentang arti kesabaran dan ketabahan, serta harus bersikap membumi.

Diketahui, puisi ‘Hujan Bulan Juni’ pun bahkan sudah diterbitkan ke dalam banyak buku kumpulan puisi yang dialihbahasakan hingga empat bahasa. Antara lain, Inggris, Arab, Mandarin, dan Jepang.

Baca Juga: Kronologi Perdamaian Hotma Sitompul dengan Desiree Tarigan Versi Kuasa Hukum Kedua Belah Pihak

Nah, selain 'Hujan Bulan Juni' ternyata ada beberapa puisi karya Sapardi Djoko Damono yang cukup populer. Berikut beberapa di antaranya.

Hujan Bulan Juni


Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu


Tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu


Tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

Yang Fana adalah Waktu


Yang fana adalah waktu. Kita Abadi

Memungut detik demi detik, merangkai seperti bunga sampai pada suatu hari

Kita lupa untuk apa

Tapi, Yang fana adalah waktu, bukan? Tanyamu.

kita abadi.

Menjenguk Wajah di Kolam


Jangan kau ulangi lagi menjenguk wajah yang merasa sia-sia, yang putih yang pasi itu.

Jangan sekali-kali membayangkan wajahmu sebagai rembulan.

Ingat, jangan sekali-kali. Jangan.

Baik, Tuan.

Baca Juga: akta Lengkap Himbara Tunda Penarikan Tarif Transaksi di ATM Link

Sajak-Sajak Kecil Tentang Cinta


Mencintai angin, harus menjadi siut

Mencintai air, harus menjadi ricik

Mencintai gunung, harus menjadi terjal

Mencintai api, harus menjadi jilat

Mencintai cakrawala, harus menebas jarak

Mencintai-Mu, harus menjelma aku.


Share :

HEADLINE  

Clara Shinta Bongkar Dugaan Perselingkuhan Suami, VCS dengan Selebgram

 by Frida Tiara Sukmana

March 30, 2026 14:00:00


Richard Lee Ditahan Lebih Lama, Polisi Perpanjang Masa Tahanan 40 Hari

 by Frida Tiara Sukmana

March 28, 2026 15:00:00


Iko Uwais Ungkap Perbedaan Adegan Laga Film Indonesia dan Hollywood

 by Frida Tiara Sukmana

March 26, 2026 15:00:00


Konflik Tasyi-Tasya Memanas Lagi, Ibu Ungkap Dibentak soal Foto Lebaran

 by Frida Tiara Sukmana

March 24, 2026 11:00:00


Review Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Horor Klasik yang Makin Matang

 by Frida Tiara Sukmana

March 23, 2026 11:00:00


Irma Novita Jadi ‘Mak’ di Na Willa, Refleksi Pola Asuh Otoriter

 by Frida Tiara Sukmana

March 21, 2026 17:00:00