Para pendukung Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyerbu gedung US Capitol untuk membatalkan kemenangan Joe Biden sebagai Presiden AS baru. Bahkan, pihak militer turun tangan.
Aksi pendudukan oleh para pendukung Trump itu untuk membatalkan hasil pemilu 3 November yang dimenangkan secara sah oleh Joe Biden.
Pemerintah AS telah memutuskan untuk mengirim pasukan semi militer Garda Nasional ke Ibukota Washington DC dan negara bagian tetangga. Ini terjadi setelah pengunjuk rasa yang mendukung Presiden Donald Trump menyerbu Capitol Hill AS pada Rabu 6 Januari 2021 waktu setempat.
Baca Juga: Wagub DKI Tegaskan Akan Mendenda RP 5 Juta Bagi Warga yang Tolak Vaksinasi Covid-19
Juru bicara Gedung Putih Kayleigh McEnany mengatakan dalam cuitannya bahwa Trump telah mengarahkan pemanggilan pasukan Garda Nasional, menurut laporan AFP.
Pasukan penjaga Washington DC yang berkekuatan 1.100 orang telah dipanggil untuk mendukung penegakan hukum federal.
Sebelumnya, unjuk rasa menolak pengesahan kemenangan Joe Biden terjadi di Washington D.C, AS.
Para pendukung Trump, yang menyebut diri mereka Gerakan Penyelamatan AS, menggunakan topi merah yang jadi simbol kampanye mantan pengusaha real estate itu.
Namun sayangnya demo tersebut tak berjalan damai. Situasi panas terjadi akibat bentrok antara aparat dan pendukung Trump yang berasal dari milisi sayap kanan Proud Boys.
Massa yang rusuh mencoba menghentikan rapat dan menembus barikade polisi. Aparat bahkan menembakkan gas air mata guna mengamankan situasi. Kepolisian menyatakan terdapat korban luka.
Respon Pemimpin Dunia
Perdana Menteri Swedia Stefan Lofven dalam tweetnya menggambarkan adegan itu sebagai sebuah serangan terhadap demokrasi.
“Presiden Trump dan banyak anggota Kongres memikul tanggung jawab yang signifikan atas apa yang sedang terjadi. Proses demokratis dalam memilih presiden harus dihormati," ujar dia.
Baca Juga: Daftar Lengkap 30 Hujan Meteor yang Akan Menyapa Sepanjang 2021
Kemudian, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dalam tweet menyebut peristiwa di Kongres AS sebagai "aib". “Amerika Serikat berdiri untuk demokrasi di seluruh dunia dan itu penting sekarang karena harus ada transfer kekuasaan yang damai dan tertib,” papar dia.
Perdana Menteri Australia Scott Morrison menggambarkan pemandangan di Washington sebagai "menyedihkan".
“Kami mengutuk tindakan kekerasan ini dan menantikan transfer damai Pemerintah ke pemerintahan yang baru terpilih dalam tradisi demokrasi Amerika yang hebat,” ungkap dia di Twitter.
Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menyebut protes kekerasan di Washington sebagai "pemandangan yang mengejutkan".
“Hasil pemilu demokratis AS harus dihormati,” tegas dia.