Orasi Pancasalah Pengganti Pancasila Versi Mahasiswi Nabila Syadza

Orasi Pancasalah Pengganti Pancasila Versi Mahasiswi Nabila Syadza

Dedi Sutiadi
2020-10-10 16:35:47
Orasi Pancasalah Pengganti Pancasila Versi Mahasiswi Nabila Syadza
Nabila Syadza saat berorasi membaca Pancasalah Pengganti Pancasila

Orasi Pancasalah pengganti Pancasila versi Nabila Syadza viral di media sosial. Pancasalah merupakan orasi seorang mahasiswi bernama Nabila Syadza saat melakukan unjuk rasa menolak RUU Cipta Kerja beberapa hari lalu. 

Baca juga: Biografi dan Profil Lengkap Nabila Syadza, Mahasiswi yang Viral Orasi Pancasila jadi Pancasalah

Seperti diketahui aksi penolakan RUU Cipta Kerja terjadi pada Kamis 8 Oktober 2020. Aksi diikuti hampir seluruh elemen masyarakat mulai dari mahasiswa, buruh dan pelajar di beberapa daerah Indonesia.

Dalam aksi tersebut sosok Nabila Syadza menjadi viral setelah video orasi Pansalah yang disuarakan dirinya beredar di media sosial. Dalam video tampak Nabila Syadza mengenakan baju hitam, bercelana baggy keper lantang berorasi di tengah kerumunan masa. Sementara asap hitam membumbung ke udara akibat kobaran api dari dan yang terbakar. 

Sambil menggemgam megaphone di tangan kanan Nabila Syadza lantang membacakan orasi Pancasalah. Sementara tangak kirinya diangkat ke arah langit sambil terjepit sebatang rokok yang masih menyala. Nabila Syadza lantang berorasi di atas trotoar menyayangkan aksi aparat yang terkesan represif pada peserta demontrasi. 

"Tendangan dibalas tendangan, darah dibalas darah!" teriaknya yang disambut Betul oleh kamerad-kamerad nya. 

Dalam sambungan orasinya, Nabila Syadza lantang menyebut Pancasalah yang telah menjadi sila dasar negara dalam memimpin rakyat nya. Pancasalah merupakan representasi kegelisahan hati nya atas tindakan negara yang seolah tidak pro kepada kepentingan rakyat. 

Baca juga: Berhenti Terbang, Perusahaan Thai Airways Beralih Dagang Cakwe di Thailand

"Negara kita, yang katanya negara Pancasila, sekarang menjadi negara pancasalah! 1. Ketuhanan yang maha ormas, 2. Kemanusiaan yang adil bagi para birokrat, 3. Persatuan para investor, 4. Keraykatan yang dipimpin oleh hikmat penindasan dalam permusyawaratan diktatornya, 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat kelas atas!" lantangnya.




Share :