PSBB Kembali, Pengelola Bioskop Pasrah Meski Merugi Jutaan Rupiah

PSBB Kembali, Pengelola Bioskop Pasrah Meski Merugi Jutaan Rupiah

Foto
https://correcto.id/beranda/read/34816/jeritan-pengusaha-hotel-saat-jakarta-psbb-lagi-hingga-hotel-bintang-3-jadi-rs-corona-tambahan

Setelah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, mengatakan bahwa pada 14 September akan diberlakukan PSBB Ketat. Hal ini membuat Pengelola bioskop mengaku pasrah dengan situasi saat ini. 

Sudah berbulan-bulan bisnisnya tidak bisa beroperasi akibat adanya pandemi COVID-19.

Kini, bioskop terancam tutup lebih lama lagi menyusul PSBB yang kembali diberlakukan per 14 September nanti.

Baca Juga: eritan Pengusaha Hotel saat Jakarta PSBB Lagi hingga Hotel Bintang 3 Jadi RS Corona Tambahan

"Yaudah mau diapain, apa yang ada aja kita lakukan," ujar Ketua Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Syafruddin, pada Kamis 10 September 2020.

Ia juga mengaku bahwa selama ditutup, bisnisnya tidak lagi mendapatkan omzet sepeser pun. Namun ia juga mengatakan bahwa malahan, terus mengalami kerugian karena ada biaya operasional yang wajib dibayarkan tiap bulannya.

"Pengeluaran terbesar itu adalah listrik, kalau diputus nanti masukinnya mahal lagi bisa Rp 400 juta. Listrik kalau tidak dipakai itu Rp 10-15 juta ada, tapi kita pakai juga untuk hidupin AC, proyektor itu Rp 30-35 jutaan ada itu sebulan," ungkapnya.

Ia juga melanjutkan bahwa jika ditotal bersama biaya operasional lainnya seperti perawatan objek-objek di bioskop dan gaji karyawan bisa mencapai Rp 70 juta per bulan. Itu pun hanya berlaku bagi bioskop independen.

"Minimal total itu Rp 60 juta- Rp 70 juta sebulan pasti itu. Itu bioskop yang biasa loh, yang independen, bagaimana yang di group," tambahnya.

Hingga kini meskipun masih di tutup dan tidak beroperasi, pihaknya juga tetap masih memperkerjakan sebagian karyawanya.

Baca Juga: Imbauan MUI Jelang PSBB Total DKI Jakarta, Tidak Diwajibkan Sholat Jumat Bagi Zona Merah Corona

Hal ini untuk merawat objek-objek yang ada di bioskop agar tetap terawat dan bebas dari jamur.

Jika ditotal bersama biaya operasional lainnya seperti perawatan objek-objek di bioskop dan gaji karyawan bisa mencapai Rp 70 juta per bulan. Itu pun hanya berlaku bagi bioskop independen.

"Minimal total itu Rp 60 juta- Rp 70 juta sebulan pasti itu. Itu bioskop yang biasa loh, yang independen, bagaimana yang di group," tambahnya.


Sumber: kompas/detik/