Fakta-fakta Lima Negara Ini Mematikan Bagi Aktivis Lingkungan

Fakta-fakta Lima Negara Ini Mematikan Bagi Aktivis Lingkungan

Yuli Nopiyanti
2020-07-29 20:30:00
Fakta-fakta Lima Negara Ini Mematikan Bagi Aktivis Lingkungan
Pembunuhan Berta Caceres tahun 2016 menjadi pengingat nyata dari kebrutalan yang dihadapi oleh para aktivis lingkungan. (Foto:Dok.Getty Images/AFP/O.Sierra)

Pasalnya di laporan terbaru dari Global Witness mengungkap adanya lonjakan pembunuhan terhadap aktivis lingkungan di seluruh dunia. Mereka yang dibunuh termasuk pemimpin masyarakat adat yangmempertahankan lahan yang mereka sebut rumah.

Tak hanya itu saja bahkan pembunuhan aktivis lingkungan terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut sebuah laporan terbaru LSM yang berbasis di London, Global Witness, sebanyak 212 aktivis lingkungan dan agraria, terbunuh di tahun 2019.

Namun tak hanya itu saja paslanya jumlah ini meningkat 30 persen dari tahun 2018 dengan jumlah 164 aktivis. Sekitar 40 persen dari aktivis yang terbunuh adalah penduduk pribumi dan pemilik tanah tradisional.

Bahkan lebih dari dua pertiga pembunuhan terjadi di Amerika Latin. Kolombia menempati posisi teratas dengan 64 pembunuhan yang terjadi akibat gagalnya implementasi perjanjian damai 2016 dengan FARC.

Baca Juga: Sowan ke DPP PAN, AHY: Ini Warning Bagi Kita Semua

Mary Menton, seorang peneliti di bidang keadilan lingkungan di Universitas Sussex yang turut menulis laporan itu mengatakan dia “tidak akan kaget” jika angka pembunuhan yang sebenarnya, akan meningkat berlipat ganda.

Meningkatnya konflik atas kelangkaan sumber daya lahan yang terjadi di tengah meningkatnya permintaan konsumen global akhirnya memaksa para pemimpin masyarakat adat untuk melindungi wilayah mereka, kata Rachel Cox, seorang juru kampanye Global Witness.

"Masyarakat adat sangat rentan menerima serangan," ujarnya merujuk pada minoritas yang berjuang menentang pertambangan, penebangan dan proyek agribisnis yang melanggar batas yang mereka sebut rumah. Tapi pembunuhan itu ibaratnya hanya puncak dari gunung es. "Masih banyak lagi aktivis yang diserang, dipenjara, atau bahkan dihadapkan dengan kampanye kotor karena pekerjaan mereka," pungkas Cox.

Fakta-fakta Inilah lima negara dengan tingkat kematian aktivis tinggi pada tahun 2019.

Filipina

Filipina adalah negara paling mematikan bagi aktivis lingkungan pada tahun 2018. Setidaknya 46 aktivis lingkungan dibunuh tahun lalu di Filipina. Angka ini meningkat sebanyak 53 persen dan terjadi di tahun-tahun awal kepemimpinan Duterte. Sekitar 26 pembunuhan dilaporkan berhubungan dengan agribisnis, dan merupakan yang tertinggi di dunia.

Tak hanya itu saja bahkan Presiden Duterte juga menggunakan undang-undang anti-teror kejam untuk menekan aktivis dengan menyebut mereka sebagai penjahat.

Pulau selatan Mindanao tetap menjadi hotspot dengan 19 pembunuhan terkait lingkungan pada tahun 2019 akibat oposisi berkelanjutan terhadap perkebunan kelapa sawit dan agribisnis. T

Menurut laporan Global Witness, upaya perlawanan semacam ini sejatinya diperlukan untuk melindungi Filipina yang punya kerentanan tinggi terhadap perubahan iklim, terutama angin topan.

Brasil

Pasalnya diketahui bahwa dorongan agresif Presiden Brasil Jair Bolsonaro untuk memperluas pertambangan skala besar dan agribisnis di Hutan Amazon telah membuat masyarakat adat lebih jauh berada di garis depan krisis iklim, terutama karena deforestasi di tanah adat meningkat sebesar 74% dari 2018 ke 2019. Dari 24 pembunuhan aktivis agraria di Brasil, 90% di antaranya terjadi di Amazon.

Meningkatnya jumlah kekerasan di wilayah kaya sumber daya yang juga merupakan penyerap karbon terbesar di planet ini, muncul ketika pemerintah Bolsonaro memperkenalkan RUU kontroversial pada 2019 yang menyerukan legalisasi penambangan komersial di tanah adat.

Baca Juga: Kantor Komnas HAM Ditutup Sepekan, Akibat Satu Staf Positif Corona

Bolsonaro sendiri juga "secara aktif mendorong kekerasan" terhadap pembela adat melalui pidato sarat kebencian, kata Mary Menton.

Pada Juni tahun lalu, puluhan penambang yang mengenakan seragam militer dilaporkan menyerbu komunitas Wajapi di Amazon, Brasil. Mereka menikam dan membunuh salah satu pemimpin komunitas adat tersebut.

Meksiko

Dikabarkan juga bahwa sekitar 18 aktivis agraria dan lingkungan terbunuh di Meksiko pada tahun 2019. Ada kenaikan sebanyak empat pembunuhan.

Di antara mereka yang terbunuh adalah Otilia Martínez Cruz (60) dan putranya, Gregorio Chaparro Cruz (20), yang ditemukan tewas di luar rumah mereka di kota El Chapote di barat laut Meksiko pada 1 Mei 2019 lalu. Para pembela pribumi Tarahumara ini diduga dibunuh oleh pembunuh bayaran sebagai balasan atas upaya mereka mengehentikan deforestasi ilegal tanah leluhur mereka di Serra Madre.

Dua bulan sebelumnya, Samir Flores Soberanes ditembak mati di luar rumahnya pada 20 Februari 2019. Sehari sebelum dia terbunuh, Samir yang merupakan seorang petani pribumi Nahuatl yang juga aktivis lingkungan dari Amilcingo, Morelos, secara terbuka menentang Proyek Integral Morelos (MIP) dalam mengembangkan infrastruktur energi batubara dan gas.

Rumania

Eropa sejatinya jarang menyaksikan kematian aktivis lingkungan, tetapi dua penjaga hutan yang melawan penebangan liar dilaporkan terbunuh pada tahun 2019.

Rumania merupakan rumah bagi lebih dari setengah hutan tua dan hutan purba yang tersisa di Eropa sehingga dijuluki sebagai “paru-paru Eropa”.

Tetapi menurut Greenpeace, sekitar 3 hektar dari hutan asli di Rumania ini terdegradasi setiap jamnya. Sebagian besar karena “mafia kayu” yang ditentang oleh dua penjaga hutan itu. Laporan Global Witness mencatat bahwa ada ratusan ancaman dan serangan terhadap penjaga hutan sebelum akhirnya mereka dibunuh. Meskipun ribuan orang telah melakukan aski protes untuk menentang pembalakan liar dan menuntut penyelidikan atas serangan itu pada akhir 2019, tidak ada satu pihak pun yang ditahan.

Honduras

Di Honduras, pembunuhan aktivis meningkat dari 4 pembunuhan pada tahun 2018 menjadi 14 pembunuhan di 2019. Angka ini menjadikan Honduras sebagai negara per kapita paling berbahaya bagi aktivis agrarian dan lingkungan pada 2019.

Baca Juga: Berisi 200 Kg Sabu, Bareskrim Gerebek Gudang di Ancol

Mirisnya, serangan mematikan terhadap aktivis banyak terjadi pada perempuan. Tren ini meningkat sejak aktivis Honduras dan pemimpin adat Berta Caceres dibunuh secara brutal pada tahun 2016,. Dia diserang hanya beberapa bulan setelah memenangkan Penghargaan Lingkungan Goldman yang bergengsi, karena menentang pembangunan bendungan di wilayahnya.

“Perempuan memiliki peran kepemimpinan penting dalam perang melawan perusahaan dan kelompok kriminal yang ingin mengambil tanah mereka,” kata Marusia Lopes dari Inisiatif Mesoamerika Pembela Hak Asasi Perempuan, yang mendokumentasikan sebanyak 1.233 serangan terhadap aktivis perempuan antara 2017-2018.

Warga Afro-pribumi Garifuna yang tinggal di pantai timur secara khusus telah menjadi sasaran pembunuhan pada tahun 2019. Sekitar 16 orang terbunuh karena mempertahankan tanah mereka, sebagian besar dari pengembangan kelapa sawit dan pariwisata. Selain itu, kelompok kriminal telah lama menyerang komunitas Garifuna dengan impunitas.


Sumber:Detik,dw.com


Share :