Seni budaya dari ujung barat indonesia, Aceh ini dilakukan dengan memuluk kepala dan badannya dengan benda tajam. Anehnya, aksi ekstrim ini tidak meninggalkan sayatan apapun pada tubuh si pedabus.
Padahal, senjata tajam yang digunakan benar-benar tajam. Seakan semua benda tajam dan pukulan benda keras menjadi lunak di badan mereka.
Yang ditampilkan dari tradisi ini adalah atraksi ketangkasan dan kekebalan yang di padukan dengan alunan musik rapai. Namun, anak muda zaman sekarang banyak yang tidak tau.
Baca juga: Ngeri! Demi Belajar Online Puluhan Siswa SD di Sulawesi Cari Sinyal di Tepi Jurang
Kata rapai berasal dari suatu tarikat yang menggunakan sebuah alat perkusi (alat musik pukul) sebagai media penyampaian ajaran untuk mengumpulkan massa.
Tim rapai daboh akan dibagi ke dalam dua tim. Tim pertama adalah para pemukul rapai yang berjumlah 8 s.d. 12 orang. Mereka semua berbusana serba hitam, memakai tangkulok di atas kepala dan memegang satu per satu rapai sambil duduk dengan posisi melingkar di arena pentas.
Baca juga: Nahas, Bayi Berumur 11 Bulan Tewas Terlindas Mobil Mundur di Bangli
Kemudian masuklah para pedabus berjumlah 2 s.d. 4 orang ke dalam lingkaran para pemain rapai. Kemudian para pedabus mengikuti setiap alunan bunyi rapai sambil menikam dan memukul badannya dengan benda tajam.
Sumber: HalamanKepri.com