Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan suhu akan semakin panas dalam lima tahun mendatang.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal mengatakan hal itu berdasarkan laporan prediksi baru dari Pusat Prediksi Iklim Tahunan hingga Dekadal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).
"Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa kenaikan suhu global rata-rata tahunan dalam lima tahun mendatang akan cenderung setidaknya 1 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri di masing-masing tahun pada 2020 hingga 2024," ujar Herizal dala keterangan tertulis, Rabu 15 Juli 2020.
Baca Juga: Waduh! BMKG Sebut Jateng-Bali Berpotensi Dilanda Kekeringan 20 Hari ke Depan
Herizal mengatakan suhu pad 2019, rata-rata bumi sudah lebih dari 1,0 derajat Celcius di atas periode pra-industri. Dia juga berkata periode lima tahun terakhir (2014-2019) adalah lima tahun terhangat dalam sejarah catatan data meteorologi.
Mengutip pernyataan Sekjen WMO Petteri Taalas, Herizal berkata situasi itu akan menjadi tantangan besar ke depan dalam memenuhi target Perjanjian Perubahan Iklim Paris dalam menjaga kenaikan suhu global abad ini jauh di bawah 2 derajat Celcius, di atas tingkat pra-industri. Selain itu, hal tersebut juga menjadi tantangan untuk mengejar ambisi upaya membatasi kenaikan suhu global tidak lebih dari 1,5 derajat Celcius pada tahun 2030.
Lebih lanjut, Herizal berkata WMO juga menekankan bahwa perlambatan industri dan ekonomi dampak Covid-19 bukanlah pengganti dari rencana aksi iklim yang berkelanjutan dan terkoordinasi secara global.
Di sisi lain, Herizal berkata suhu bumi yang terus memanas telah berdampak pada lingkungan, salah satunya memicu perubahan pola hujan dan peningkatan cuaca ekstrem. Di Indonesia, secara umum perubahan pola hujan itu ditandai oleh peningkatan hujan di daerah di utara katulistiwa yang menyebabkan iklimnya cenderung semakin basah.
"Sementara di selatan khatulistiwa cenderung kering. Namun di banyak tempat ditemukan bukti bahwa hujan dalam kategori ekstrem terus meningkat kejadiannya," ujarnya.
Baca Juga: Bahayakah Bioskop Jakarta Buka 29 Juli? Ini Penjelasan Epidemiolog
Di Jakarta, kata dia data 130 tahun menunjukkan frekuensi hujan ekstrem justru meningkat sekalipun rata-rata curah hujan tahunan relatif sama, bahkan menuru. Sekitar 10 persen intensitas hujan tertinggi di Jakarta, di atas 100 mm per hari telah meningkat 14 persen akibat penambahan suhu per 1 derajat celcius.
"Tren cuaca ekstrem juga meningkat, ditandai dengan peningkatan frekuensi dan skala bencana hidrometeorologi," ujar Herizal.
Sumber: CNN