Mengenal BCA yang Sahamnya Rontok Usai Lima Direktur Jual Kepemilikan

Mengenal BCA yang Sahamnya Rontok Usai Lima Direktur Jual Kepemilikan

Ahmad
2020-07-13 19:45:00
Mengenal BCA yang Sahamnya Rontok Usai Lima Direktur Jual Kepemilikan
Foto: Istimewa

Saham PT Bank Central Asia (Persero) Tbk atau BCA melorot pada perdagangan Senin 13 Juli ke posisi terburuknya yaitu 30.700 atau turun 1,4 persen dari harga bukanya di 31.200.

Melansir RTI Infokom, Senin 13 Juli 2020, tercatat saham perbankan kelas kakap itu bergerak hijau di awal perdagangan ke level tertingginya 31.200 sebelum merosot akibat lima direkturnya kompak melepas saham pribadinya.

Sepanjang hari, emiten berkode BBCA ini mencatatkan beli bersih asing sebesar Rp17,31 miliar dengan transaksi sebesar Rp358,41 miliar dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 11,6 juta saham.

Baca Juga: Pernah Berseteru dengan Nabila Aprillya hingga Dikaitkan Kasus Prostitusi, Ini Fakta Hana Hanifa

Diketahui, lima direktur BCA menjual saham pribadinya pada periode 7 hingga 10 Juli lalu.

Kelima direktur BCA yang menjual sahamnya meliputi Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja, Direktur BCA Rudy Susanto, Direktur BCA Lianawaty Suwono, Direktur BCA Henry Koenaifi, dan Direktur Independen BCA Erwan Yuris Ang. Kelimanya, melepas saham dengan jumlah dan harga berbeda.

Jahja tercatat secara total melepas 100 ribu saham. Detailnya, sebanyak 50 ribu saham dijual pada harga Rp31.050 per saham di 9 Juli 2020.

Jahja kembali menjual 25 ribu saham seharga Rp31.125 per saham dan sebanyak 25 ribu saham dengan harga Rp31.100 per saham. Kedua transaksi tersebut dilakukan pada 10 Juli 2020.

Untuk Rudy Susanto, secara akumulasi ia melepas 199.500 saham pada 9 Juli 2020. Rinciannya, sebanyak 54.500 saham dijual seharga Rp31.025.

Sedangkan, mayoritas saham yang dijual atau 145.500 saham dilego dengan harga Rp31.000 per saham.

PT Bank Central Asia (Persero) Tbk atau BCA tak lagi asing di telinga masyarakat Indonesia. Sebagai bank swasta terbesar, BCA telah menjangkau seantero nusantara.

Cikal bakal BCA berawal dari Perseroan Dagang dan Industrie Semarang Knitting Factory yang berdiri pada 1955. Setelah berdiri selama 2 tahun, secara resmi BCA mulai beroperasi dan berkantor pusat di Jakarta pada 1975.

Pada September tahun sama, perusahaan secara resmi diganti menjadi Bank Central Asia. Terus menanjak, pada 1980-an, BCA mulai bergerak agresif dengan memperluas jaringan kantor cabang.

BCA juga memperkuat cengkeramannya dengan mengembangkan berbagai produk, layanan dan pengembangan teknologi informasi dengan menerapkan sistem daring untuk jaringan kantor cabang.

Inovasi terus berlanjut, pada 1990-an BCA mengembangkan alternatif jaringan layanan melalui ATM. Tepat pada 1991, BCA mulai menempatkan 50 unit ATM di berbagai tempat di Jakarta. Pengembangan jaringan dan fitur ATM pun dilakukan secara intensif.

Pada krisis moneter 1998, BCA mengalami bank rush dan menjadi Bank Take Over (BTO) dan disertakan dalam program rekapitalisasi dan restrukturisasi yang dilaksanakan oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Selepas rekapitalisasi selesai, pemerintah melalui BPPN menguasai 92,8 persen saham BCA sebagai hasil pertukaran dengan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia. 

Dalam proses rekapitalisasi tersebut, kredit pihak terkait dipertukarkan dengan Obligasi Pemerintah.

Baca Juga: WNA Perancis Terduga Pelaku Pelecehan 305 Anak Tewas Gantung Diri, Ini Penyebabnya

Secara bertahap, BPPN melakukan divestasi sebesar 22,5 persen dari saham BCA melalui penawaran saham publik perdana (IPO). Penawaran publik terus dilakukan hingga pada 2002, Farindo Investment (Mauritius) Limited mengambil alih 51 persen saham BCA melalui proses tender.

Baru lah pada 2005, pemerintah melalui PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) melakukan divestasi seluruh sisa kepemilikan saham BCA sebesar 5,02 persen.

Selepas 2005, BCA dengan getol terus mengembangkan layanan perbankan elektronik hingga didapuk menjadi merek paling berharga Indonesia selama 5 tahun berturut-turut sejak 2015-2019 versi BrandZ Top 50 Most Valuable Indonesian Brands.


Sumber: CNN, CNBC


Share :