Penerimaan Peserta Didik baru (PPDB) jalur Zonasi di Jakarta banyak menimbulkan kekecewaan di banyak pihak. Sistem ini menguntungkan siswa lebih tua dan membuat siswa lebih muda terpental dari sekolah pilihannya.
Raihan Aqila (15), salah satu siswa yang kalah bersaing masuk SMAN karena usianya. Ia mengatakan, dirinya akhirnya tidak mendaftar lewat jalur zonasi ini karena sadar akan usianya.
"Saya sama sekali nggak daftar. Soalnya saya udah lihat umurnya tinggi-tinggi. Jadi saya tahu diri nggak daftar," ujar Raihan pada Jumat, 26 Juni 2020.
Baca juga: BMKG Sebut 51,2% Wilayah Indonesia Mulai Masuk Musim Kemarau
Raihan juga menginginkan, seleksi PPDB jalur zonasi ini jangan berdasarkan umur. Cukup menggunakan seleksi jarak rumah ke sekolah saja.
"Nggak usah pake umur. Sudah pakai jarak aja nggak apa-apa gitu. Pasti mereka-mereka juga incernya sekolah-sekolah yang terdekat," ucap Raihan.
"Cuman saya pengennya negeri gitu loh. Nggak pengen swasta sama sekali. Pengennya negeri dan deket rumah saya biar nggak terlambat sekolah," tambah Raihan.
Baca juga: Pasar Gembrong Jakpus Ditutup 3 Hari, Setelah 4 Orang Pedagang Positif Corona
Raihan juga memberi alasan terkait seleksi jarak rumah antar sekolah, jika lebih mengefisienkan waktu dan ekonomi keluarga.
"Kedua bisa meminimalisir waktu berangkat sekolah juga, meminimalisir uang transportasi. Kan saya nanti kalau ke SMA Negeri 8 bisa tinggal jalan. Kalau ke sampai ke Jakpus, Jaktim kan harus naik ojol, belum nanti angkotnya atau apanya, ada jalan lagi jauh," ujarnya.