Tepat hari ini, Provinsi Jakarta berulang tahun ke-493. Sayangnya, kemeriahan yang biasanya terjadi ditiap perayaan hut Ibu Kota dengan terpaksa harus ditiadakan akibat pandemi virus corona.
Ditengah kebahagian tersebut, sayanganya tidak sama dengan kualitas udara di kota tersebut.
Berdasarkan pemantauan Air Quality Index dan PM2.5 kualitas udara di DKI Jakarta mencapai angka 184 atau tidak sehat.
Baca Juga: HUT DKI ke-493, Anies: Terkendalinya Pandemi Covid-19 Jadi Kado Terindah
Angka ini menempatkan Jakarta di peringkat pertama sebagai kota dengan kualitas udara tak sehat di dunia. Bahkan Jakarta mengalahkan Beijing, Cina yang berada di peringkat ke-5 dalam kualitas udaranya.
Adapun konsentrasi polutan hari ini mencapai 118,8 µg/meter kubik. Standar aman yang ditetapkan WHO, batas wajar polutan ini adalah 25 µg/m³.
PM 2.5 merupakan debu kecil berukuran 2,5 mikron yang dihasilkan dari sisa pembakaran, mulai dari bahan bakar fosil, PLTU Batubara, dan transportasi.
Debu ini merupakan polusi berbahaya yang dapat mengakibatkan pneumonia, sesak napas, hingga memicu kanker dan hanya bisa dicegah menggunakan masker N95.
Data mengenai kadar polusi di Jakarta milik IQAir ini merupakan hasil pemantauan dari 10 stasiun udara yang tersebar di 5 wilayah Jakarta.
Untuk itu, IQAir menyarankan warga tidak berkegiatan di luar ruangan, menutup jendela untuk mengurangi udara kotor masuk ke dalam rumah atau ruangan serta memasang alat penjernih udara.
Baca Juga: Begini Cara RI Keluar dari Ketergantungan Impor Sampah Plastik
Udara kotor ini terjadi setelah Pemerintah Provinsi DKI menerapkan pelonggaran kebijakan pembatasan sosial berskala besar atau transisi new normal dua pekan lalu. Setelah pelonggaran terlihat jalanan di Ibu Kota kembali macet, terutama pada jam sibuk pagi dan sore.