Ini 5 Tradisi Unik Berbagai Daerah di Indonesia Ketika Meminta Hunjan, Salah Satunya Erlau-lau dari Sumut

Ini 5 Tradisi Unik Berbagai Daerah di Indonesia Ketika Meminta Hunjan, Salah Satunya Erlau-lau dari Sumut

Ekel Suranta Sembiring
2020-06-09 06:00:00
Ini 5 Tradisi Unik Berbagai Daerah di Indonesia Ketika Meminta Hunjan, Salah Satunya Erlau-lau dari Sumut
Tradisi Erlau-lau (foto: Kompasiana)

Indonesia merupakan salah satu negara Agraris, hampir semua setiap desa di Indonesia berpenghasilan dari pertanian. Nah, maka dari itu  musim hujan menjadi fenomena alam yang dinantikan kedatangannya, terutama ketika musim tanam. Sebab, curah hujan yang tinggi saat musim tanam akan membantu proses pertumbuhan tanaman. 

Apabila musim kemarau yang berkepanjangan terjadi, masyarakat desa kemungkinan mengalami gagal panen. Oleh karena itu, masyarakat desa biasanya mengadakan ritual unik untuk menangkal kemarau panjang. 

Menariknya, setiap daerah di Indonesia punya tradisi masing-masing dalam meminta hujan. Dihimpun Correcto.id dari berbagai sumber, berikut lima tradisi meminta hujan di Indonesia. Yuk, simak ulasannya. 

Baca Juga: Selain Tawar Mencibut, Ternyata Resep Ini Mampu Bikin Keperkasaan Pria Karo Lebih Oke

1. Erlau-lau, Suku Karo di Sumatera Utara (Sumut)


Tradisi Erlau-lau (foto: Kompasiana)

Dalam bahasa Karo, "Erlau-lau" memiliki arti bermain air. Dikenal pula sebagai Ndilo Wari Udan atau Meminta Musim Hujan, tradisi yang satu ini biasanya dirayakan dengan sangat meriah. Orang-orang akan berkerumun sambil membawa gayung, mangkok, atau ember.  

Pemerintah setempat kemudian akan menyalakan saluran air dan aliran sungai ke pemukiman warga. Sementara itu, masyarakat setempat akan saling siram-menyiram air satu sama lain, sambil berteriak "Diir ko udan!" yang berarti "Deraslah hujan!". 

Sepintas, acara saling siram-menyiram ini mirip seperti Songkran di Thailand. Bedanya, dalam acara Erlau-lau, ada aturan adat tertentu yang tidak memperbolehkan wanita dan pria untuk saling menyiram sesuai dengan hubungan kekerabatan.  

Misalnya antara menantu dengan mertua yang beda jenis kelamin. Selain itu, semuanya bebas saling siram. 

2. Gebug Ende, Bali


Gebug Ende (foto: Kintamani.id)

Gebug Ende adalah tarian yang gerakannya menyerupai silat. Biasanya Gebug Ende dimainkan oleh dua orang pria yang membawa rotan (ende) untuk memukul dan perisai (tamiang) untuk melindungi diri.  

Gebug Ende biasanya ditarikan ketika kemarau panjang melanda. Para petarung akan saling memukul hingga berdarah-darah. Mereka tidak diperkenankan menggunakan baju, cukup bersaput poleng dan dilengkapi dengan udeng saja. 

Tidak ada batasan pasti siapa yang menang atau kalah. Walau begitu, peserta yang terluka saat Gebug Ende tak boleh dendam. Sebab, masyarakat Bali percaya bahwa tetesan darah dari bekas sabetan rotan itu akan membawa berkah dari alam berupa hujan. 

3. Manten Kucing, Tulungagung di Jawa Timur


Manten Kucing (foto: Etnis.id)

Dilansir laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Kebudayaan, Manten Kucing adalah upacara adat yang dilaksanakan di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. 

Ritual ini bertujuan meminta hujan ketika musim kemarau panjang. Prosesi upacara dilakukan dengan memandikan dua kucing jantan Condromowo jantan dan betina di sebuah sumber air di Bukit Cobaan.  

Dalam Bahasa Jawa, “Manten” dapat diartikan sebagai “Pengantin”. Setelah memandikan kucing, prosesi ritual akan dilanjutkan dengan doa bersama dan diakhiri atraksi Tibn. Dipercaya dengan adanya tradisi ini, musim kemarau akan berakhir dan musim penghujan akan tiba. 

4. Cowongan, Banyumas


Cowongan (foto: Shutter Stock)

Cowongan adalah tradisi minta hujan yang biasa dilakukan warga Desa Plana, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.  

Dalam tradisi Cowongan, biasanya masyarakat setempat akan membuat boneka dari sendok sayur (irus) atau gayung (siwur) yang terbuat dari batok kelapa. Boneka dari siwur atau irus tersebut didandani seperti perempuan.  

Nantinya boneka itu akan ditancapkan ke batang pohon pisang raja. Lalu, para pemainnya akan menyanyikan syair berisi doa pada Tuhan agar segera diberi hujan. Menurut kepercayaan masyarakat Banyumas, nantinya Dewi Sri atau Dewi Padi akan turun melalui pelangi untuk menurunkan hujan.  

5. Nyaluh Ondou, Kalimantan Tengah


Suku Dayak (foto: Gesit Prayogi/kumparan)

Masyarakat Dayak Ot Danum di Kalimantan Tengah akan memulai ritual Nyaluh Ondou, dengan mengambil air dan pasir dari tepi Sungai Kahayan sambil dipimpin oleh Damek (pemimpin upacara). Setelah itu, mereka akan melakukan ritual tak jauh dari tepi sungai.  

Baca Juga: Mengintip Keunikan Kabupaten Karo, Serasa Seperti di Magelang dan Bogor

Masyarakat Dayak Ot Danum kemudian mempersiapkan persembahan berupa makanan, rokok, beras, ketan, uang koin, dan berbagai sajian lainnya. Persembahan itu lantas diantar ke tengah hutan. 

Mereka percaya, persembahan tersebut akan diambil oleh tiga penguasa hujan, yakni Raja Gamala Raja Tenggara (penguasa kilat), Raja Junjulung Tatu Riwut (penguasa angin), dan Raja Sangkaria Anak Nyaru (penguasa petir).


Share :