Masyarakat Pulau Asei yang terletak di Distrik Sentani Timur dikenal dengan kemampuan seni mereka dalam membuat lukisan di kulit kayu. Masyarakat Suku Sentani menggunakan media yang didapatkan dari alam.
Mereka menggunakan arang untuk memberi warna hitam, tanah liat untuk memberi warna merah dan kapur untuk memberi warna putih serta kunyit untuk memberi warna kuning pada lukisan kulit kayu ini.
Baca Juga: Ngeri, Ini Pulau Hantu Dutungan, Ada Gua yang Konon Jadi Tempat Persembunyian Penjajah Jepang
Beberapa motif merunut pada tradisi nenek moyang serta disesuaikan dengan strata kerajaan. Ada juga motif pengembangan seperti, motif manusia, cicak dan buaya yang konon banyak terdapat di Danau Sentani serta ikan yang menyerupai hiu gergaji yang konon menjadi hewan endemis danau ini.
Lukisan kulit kayu “Khombow” adalah hasil karya seni orang Sentani yang telah ada sejak nenek moyang mereka yang dahulunya digunakan sebagai pakaian (Malo) oleh perempuan Sentani yang sudah menikah. Khombow memiliki nilai filosofi yang sangat tinggi buat orang Sentani, karena pada masa lalu khombow sebagai pakaian hanya digunakan 3 kali dalam kehidupan mereka yaitu ; pada waktu saat seorang anak lahir dijadikan sebagai pembungkus bayi, pada waktu seorang perempuan menikah dan pada waktu seseorang meninggal dunia khombow digunakan untuk membungkus jenasah.
Baca Juga: Seram, Ini Cerita Hantu Sumiati, yang Melegenda di Orang Makassar
Teknik pembuatan kulit kayu Khombow tidak berubah dari dahulu masih dikerjakan secara tradisi belum menggunakan mesin hanya peralatannya yang berubah sudah menggunakan peralatan modern seperti untuk menebang pohon menggunakan kapak besi untuk, parang untuk mengupas kulit kayu Khombow dan lempengan besi untuk menumbuk kulit tersebut agar panjang dan melebar yang dikeringkan dan nantinya sebagai bahan utama melukis.
Saat ini lukisan kulit kayu Khombow masih tetap dilestarikan oleh orang Sentani khususnya yang berada di kampung Asei Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura, walaupun fungsinya sudah berubah, tidak lagi sebagai pakaian tetapi sudah di jadikan sebagai salah satu cinderamata khas Papua dari Sentani.