Indoesia terkenal dengan berbagai macam agama bahkan tak hanya itu saja meskipun beragam namun tetap menghormati agama masing-masing bahkan “Tiongkok Kecil” Julukan itulah yang melekat pada nama Lasem. Sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah yang menyimpan sejarah dan kaya akan budaya.
Bahkan tak hanya itu saja pasalnya merujuk pada sejarahnya, Lasem merupakan tempat awal pendaratan orang Tionghoa di Pulau Jawa. Karena itu, daerah ini memiliki banyak perkampungan Tionghoa dengan deretan rumah kuno yang unik.
Rumah-rumah kuno itu bisa dengan mudah ditemui di Jalan Karangturi. Sebagian lagi berada di Desa Soditan.
Namun tak hanya itu saja pasalnya, terdapat tiga kelenteng yang berdiri megah di Lasem. Pertama, Kelenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun. Kemudian Kelenteng Gie Yong Bio di Jalan Babagan dan Kelenteng Karangturi Po An Bio.
Bahkan tak hanya itu saja pasalnya meskipun dikenal sebagai Tiongkok kecil, Lasem tak hanya dihuni oleh orang-orang Tionghoa. Lebih dari itu, Lasem dikenal sebagai rumah keberagaman.
Hidup berdampingan
Bahkan tak hanya itu saja pasalnya di Lasmen, masyarakat yang terdiri dari berbagai etnis hidup berdampingan dengan rukun. Masyarakatnya memiliki kesadaran toleransi tinggi, hidup berdampingan di atas perbedaan ras, suku, dan agama.
Ketika perayaan Imlek, imbuhnya, kelenteng terbuka bagi siapapun untuk saling bertemu dan menikmati makanan yang disajikan.
Tak hanya itu saja bahkan menariknya, meski menjadi perkampungan masyarakat keturunan Tionghoa, Lasem pun memiliki puluhan pondok pesantren (ponpes).
Ponpes Al Hidayat Asy Syakiriyyah di Soditan dan Ponpes Kauman di Jalan Karangturi, misalnya. Bahkan, kedua ponpes ini menggunakan bangunan bergaya arsitektur khas China.
Tak hanya itu saja bahkan menurut pengasuh Ponpes Al Hidayat Asy Syakiriyyah, Gus Farih Fuadi, dahulu ponpes yang diasuhnya itu merupakan bangunan tempat penginapan masyarakat Tionghoa. Bahkan pintu ruang tamu pun masih terdapat tulisan China.
"Pesantren ini didirikan Abah saya sekitar tahun 1985. Dulunya ini bangunan untuk penginapan masyarakat Tionghoa. Dibeli Abah dan dijadikan pesantren. Pintu itu memang asli masih ada tulisan huruf China," jelasnya.
Gus Farih menjelaskan, sikap toleransi di Lasem pun sudah terjalin sejak lama. Selama itu pula, santrinya berbaur dengan masyarakat keturunan Tionghoa.
Tak hanya itu, banyak juga wisatawan datang ke pesantren itu untuk belajar bagaimana menjaga toleransi.
Namuntak hanya itu saja pasalnya kenyamanan dan ketenangan hidup di tengah keberagaman juga dirasakan kaum Nasrani. Pendeta Gereja Bethel Indonesia di Lasem, Yonatan Kukuh mengatakan, dirinya dapat hidup aman dan nyaman di tengah lingkungan beragam di Lasem.
" Toleransi di sini terbangun sudah sejak lama. Masyarakat dari berbagai suku, agama ini hidup berdampingan dan saling menghormati," kata dia.
Bahkan tak hanya itu saja pasalnya diketahui bahwa terdapat dua gereja di Lasem, yakni Gereja Bethel Indonesia dan Gereja Yesus Sejati.