Di tengah suasana pandemi virus corona kedua negara ini, Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) saling baku tembak di perbatasan. Kejadian tersebut terjadi di zona demiliterisasi (DMZ) yang merupakan perbatasan kedua negara, Minggu 3 Mei pagi.
Baku tembak terjadi setelah tentara Korsel yang tengah bertugas di kota Cheorwon di DMZ mendengar serangkaian tembakan sekitar pukul 07.41 waktu lokal. Setelah diperiksa tentara korsel tersebut menemukan beberapa lubang bekas peluru.
Kantor Kepala Staf Gabungan Militer Korea Selatan (JCS) menuturkan para personelnya menemukan empat bekas tembakan peluru pada dinding post penjaga. JCS lalu memaparkan para personelnya menembakkan total 20 tembakan sebagai respons yang masing-masing 10 tembakan dalam satu putaran. JCS menuturkan tindakan itu sesuai dengan manual respons mereka.
"Kami juga mengirim pemberitahuan kepada Korea Utara melalui jalur komunikasi inter-Korea sekitar pukul 09.35 dan meminta penjelasan.
Tidak ada korban jiwa dalam inse=iden tersebut. Juga dilaporkan tidak ada kerusakan yang berrarti akibat inseden tersebut. namun demikian kejadian tersebut dinila telah melanggar perjanjian damai antar kedua belah pihak.
Korea Selatan menegaskan bahwa insiden ini melanggar perjanjian militer kedua negara yang diteken Presiden Moon Jae-in dan Pemimpin Tertinggi Kim Jong-un pada September 2018 lalu.
Di bawah perjanjian itu, kedua Korea menetapkan zona bebas bentrokan militer atau zona penyangga daratan, maritim, dan darat. Pyongyang-Seoul juga sepakat menghentikan seluruh tindakan bermusuhan demi mengurangi ketegangan dan memulihkan kepercayaan antara kedua negara.
Sejauh ini, pejabat itu menuturkan pihaknya belum mendeteksi manuver tidak biasa dari Korea Utara. Sampai saat ini, pihak Korea Utara juga belum mengeluarkan tanggapan resmi terkait insiden ini.
Militer Korea Selatan menuturkan pihaknya masih terus menyelidiki peristiwa itu berdasarkan barang bukti yang didapat seperti peluru yang ditemukan di lokasi kejadian. Seoul juga masih menganalisis motif penembakan tersebut.
Namun, hasil investigasi awal JCS menunjukkan bahwa insiden itu tampaknya bukan sebuah provokasi yang disengaja.
"Suasana ketika insiden terjadi sangat berkabut dan tentara Korea Utara biasanya bergantian giliran jaga di rentang waktu tersebut," ucap seorang pejabat JCS seperti dikutip kantor berita Yonhap.