Kakak Soe Hok Gie Sekaligus Sosiologi Arif Budiman Meninggal Dunia

Kakak Soe Hok Gie Sekaligus Sosiologi Arif Budiman Meninggal Dunia

Yuli Nopiyanti
2020-04-23 17:37:33
Kakak Soe Hok Gie Sekaligus Sosiologi Arif Budiman Meninggal Dunia
Dr. Arief Budiman atau Soe Hok Djin (Foto:Dok.Istimewa)

Kabar duka datang dari Dr. Arief Budiman, aktivis politik, intelektual publik, penulis dan sosiolog, meninggal dunia di rumah sakit dekat kediamannya di Salatiga, Jawa Tengah, pada Kamis hari ini, 23 April 2020.



Kabar kepergian pemilik nama lengkap Soe Hok Djin itu disampaikan Akademisi dan Sosiolog Ariel Heryanto melalui twitter.



"Selamat jalan, kawan lama dan rekan sejawat, Arief Budiman, Terima kasih atas apa yang telah engkau sumbangkan untuk Indonesia," kata Ariel di akun twitternya, Kamis 23 April 2020.



Tak hanya itu saja bahkan dikabarkan juga bahwa Ia telah lama menghadapi sakit parkinson selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Dr. Arief kembali ke Indonesia setelah pensiun mengajar sebagai profesor yang memimpin program Indonesia di Universitas Melbourne sejak 1997.


"Meninggal di Rumah Sakit Ken Saras, Ungaran sekitar jam 11.30," kata Asisten Arief Budiman, Amin Santoso, kepada wartawan, Kamis 23 April 2020.


Saat ini jenazah sedang berproses untuk diantar ke pemakaman di Taman Makam Bancaan di Salatiga. "Tidak ke rumah duka, langsung dimakamkan," ujarnya.



Untuk diketahui Arief Budiman yang lahir dengan nama Soe Hok Djin, merupakan aktivis Angkatan '66 bersama dengan adiknya, Soe Hok Gie ketika ia masih menjadi mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.



Bahkan tak hanya itu saja Dr. Arief, yang punya nama Tionghoa Soe Hok Djin, kakak dari aktivis Soe Hok Gie, mungkin paling dikenal, di antara kiprahnya yang lain, berkat menyerukan Golput—Golongan Putih—bersama intelektual dan pemikir liberal yang menolak Pemilu 1971. Pemilihan umum ini pertama kali digelar pemerintahan Orde Baru. Golkar, mesin politik Soeharto, menang mutlak.



Saat mahasiswa di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Arief ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan pada 1963, yang menentang kegiatan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) karena dianggap memasung kreativitas seniman.



Pada 1964, dia menerima tawaran studi ke Belgia selama satu semester. Sepulang ke Indonesia, dia terlibat dalam demonstrasi mahasiswa yang berperan menjatuhkan Presiden Sukarno.



Tak hanya itu saja bahkan Pada tahun 1968, Arief lulus dari UI dengan mengkaji psikologi penyair modern Indonesia, Chairil Anwar, kelak dibukukan dengan judul Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan (1976).



Pada 1970-an, dia memimpin gerakan anti-korupsi, melihat pemerintahan Soeharto tumbuh menjadi negara otoriter, mengeruk keuntungan pribadi dan mengabaikan nilai-nilai demokrasi. Setelah lulus PhD dalam bidang sosiologi dari Universitas Harvard, Dr.



Buku-buku Arief Budiman, selain mengenai Chairil Anwar, adalah Pembagian Kerja Secara Seksual (1981), Jalan Demokratis ke Sosialisme: Pengalaman Chili di bawah Allende (1987)—berbasis disertasinya; Sistem Perekonomian Pancasila dan Ilmu Sosial di Indonesia (1990); dan Indonesia: The Uncertain Transition (co-editor dengan Damien Kingsbury, 2001).


Share :